Oplus_131072

 

PEKALONGAN – Kilasfakta.com, Sebanyak 350 penjamah makanan dari tujuh satuan pelaksana program pemberian gizi (SPPG) di Kota Pekalongan mengikuti bimbingan teknis dari Badan Gizi Nasional (BGN) pada 25-26 Oktober 2025.

Langkah ini sebagai upaya memastikan menu yang disajikan dalam program makan bergizi (MBG) tersaji aman, higienis, dan layak konsumsi oleh penerima manfaat MBG.

Menurut ahli gizi Puskesmas Bendan, Selvi Asihana, dapur penyedia makanan baru bisa beroperasi setelah mengantongi sertifikat laik higiene sanitasi (SLHS) sebagai tanda seluruh proses pengolahan memenuhi standar kebersihan yang ketat.

“Jadi SLHS itu kuncinya. Dari pemilihan bahan, pengolahan, sampai penyimpanan, semua harus sesuai standar. Kalau dapurnya tidak higienis, risiko makanan basi atau terkontaminasi bisa tinggi,” jelas Selvi di sela kegiatan, Minggu (26/10/2025).

Kota Pekalongan
Ketua dan wakil Ketua beserta Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Pekalongan. Mengucapkan Selamat Hari Santri Nasional Tahun 2025

Ia menambahkan, tim gizi dan kesehatan lingkungan (kesling) juga melakukan monitoring dan evaluasi (monev) setiap pekan untuk memastikan kualitas makanan tetap terjaga. Selain kebersihan, para penjamah dilatih mengenali bahan pangan yang layak konsumsi agar tidak terjadi kasus keracunan di lapangan.

“Kami monitoring dan evaluasi ke dapur setiap minggu untuk melihat prosesnya, kebersihannya, dan juga melakukan tanya jawab ke murid serta guru di sekolah penerima makanan,” tambahnya.

Selvi menekankan pentingnya ketelitian saat menerima bahan pangan, karena banyak kasus keracunan disebabkan bahan yang tidak layak konsumsi.

“Artinya penjamah harus tahu bahan baku yang diterima layak atau tidak dimasak. Kuncinya di situ dan juga saat pembagian porsi. Jangan sampai ada lalat atau tangan kotor menyentuh makanan karena bisa menyebabkan diare,” tegas Selvi.

Sementara itu, dari sisi kelembagaan, Kepala SPPG Semarang Hadiriajaya, menegaskan kegiatan ini bagian dari usaha BGN untuk mencapai zero case alias nihil kasus keracunan makanan di seluruh dapur MBG.

“Pelatihan ini penting agar penjamah semakin sadar terhadap keamanan pangan dan sanitasi. Ini bukan sekadar memasak, tetapi memastikan gizi yang kita berikan benar-benar aman,” ujar Hadiriajaya.

Menurut data BGN, terdapat lebih dari 13.000 SPPG di seluruh Indonesia yang masing-masing melayani hingga 3.000 porsi makanan per hari bagi siswa, santri, dan ibu hamil.

Hadiriajaya berharap, melalui pelatihan semacam ini, standar dapur sehat dan keamanan pangan dapat diterapkan seragam di seluruh wilayah sebagai fondasi menuju visi Indonesia Emas 2045. (AU/Kf)