
Tatik Istiqomah, S.Pd.SD.
Guru SDN Bulumanis Lor, Kec. Margoyoso, Kab. Pati
Pembelajaran Bahasa Indonesia dalam konteks Kurikulum Merdeka adalah mengajak peserta didik untuk saling berkomunikasi secara aktif. Pendidik bukan lagi sebagai subjek, akan tetapi berperan sebagai fasilitator, sehingga dengan kolaborasi tersebut diharapkan tercipta suatu pembelajaran yang berkualitas. Salah satu aspek dalam pembelajaran bahasa Indonesia adalah membaca. Membaca merupakan suatu aktivitas yang dilakukan untuk mendapatkan sebuah informasi yang kita inginkan, selain itu juga untuk memperoleh ilmu serta pengalaman baru. Sehingga membaca merupakan salah satu ketrampilan yang harus dikuasai oleh peserta didik.
Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah rendahnya kemampuan membaca yang berdampak pada menurunnya kualitas pembelajaran. Hal inilah yang terjadi di sekolah penulis yaitu SD Negeri Bulumanis Lor, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati tepatnya di kelas I pada mata pelajaran Bahasa Indonesia pada materi “aku dan anggota tubuhku” selama ini dalam pembelajarannya masih menggunakan media konvesional serta pembelajaran yang hanya berpusat dari guru, sehingga dari refleksi disimpulkan itulah permasalaham pokok yang harus segera dibenahi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Dari permasalahan tersebut penulis berinisiatif menerapkan metode baru yang lebih aktif dalam pembelajaran, yaitu dengan menerapkan metode Student Active Learning atau SAL. Metode SAL dipilih karena di dalamnya menuntut keaktifan dan partisipasi subyek siswa secara optimal, sehingga peserta didik mampu mengubah tingkah lakunya secara efektif dan efisien. Pembelajaran SAL adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar siswa, yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar siswa yang bersifat internal (Gagne dan Briggs dalam Suyatno, 2011:10). Dalam metode ini juga mengharuskan iswa untuk berpartisipasi dalam proses pembelajaran dengan melibatkan diri dalam beberapa jenis kegiatan dalam pembelajaran tersebut.
Langkah-langkah dalam penerapan pembelajaran metode SAL adalah, pertama guru membuat list berisi pernyataan yang berhubungan dengan materi pelajaran, separuhnya benar dan separuhnya lagi salah, tiap-tiap pernyataan ditulis pada selembar kertas yang berbeda, jumlahnya disesuaikan dengan jumlah siswa. Kedua, guru memberikan satu kertas pada tiap siswa yang berisi pernyataan tadi kemudian diminta untuk menentukan benar atau salah dari pernyataan tersebut. Ketiga, guru meminta peserta didik untuk menjelaskan masing-masing hasil jawaban mereka apakah benar atau salah, dan ditanggapi oleh siswa lainnya. Keempat, guru memberi masukan untuk setiap jawaban peserta didik baik yang benar maupun yang salah. Kelima, guru menekankan kepada siswa bahwa kerja sama dalam kelompok akan sangat membantu dalam proses pembelajaran di kelas.
Dalam penerapannya metode SAL ini tentunya juga memiliki beberapa sekali kelebihan serta kekurangan. Kelebihannya antara lain siswa menjadi lebih termotivasi dalam mengikuti setiap kegiatan, siswa dapat berpartisipasi lebih aktif baik dalam pemeblajaran baik secara individu maupun kelompok, selain itu juga melatih siswa untuk memiliki tanggung jawab dalam kegiatan belajarnya sendiri. Sementara kekurangan dari motode ini diantaranya adalah diperlukan waktu yang lebih lama dalam proses pembelajarannya, pembahasan terkesan ke segala arah atau tidak terfokus. Namun dengan pendampingan dari guru tentunya kekurangan tersebut akan dapat dikurangi.
Dengan penerapan metode SAL ini terbukti mampu meningkatkan kualitas pembelajaran. Hal ini terbukti dengan semakin meningkatnya keaktifan serta pemahaman siswa, yang tentunya juga berujung pada peningkatan nilai yang diperoleh oleh siswa. Sehingga sudah seharusnya hasil penelitian ini menjadi referensi bagi semua guru untuk menggunakan metode yang sama dalam pembelajarannya.

