KARANGANYAR – Kilasfakta.com, Saat ini bukanlah hal asing musim cuaca ekstrem dan curah hujan deras mengguyur berbagai area negeri ini khususnya wilayah Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Kamis (29/Februari/2024)

Relokasi wisata di Argo Wisata Margo Lawu diatas lahan perkebunan teh milik kodam IV Diponegoro beberapa kali tersendat karena dampak adanya banjir yang menggenangi beberapa akses.

Tak hanya itu, beberapa kali pula relokasi wisata tepatnya diareal Segoro Gunung dimana pengerjaan yang tenaga kerjanya menggunakan banyak warga masyarakat itu malahani akrab diterpa berita miring dan isu tak sedap.

Oknum yang motifnya tidak begitu jelas serta merta menviralkan juga menviralkan melalui medsos, dari mengklaim air di kawasan Kebuh Teh Kemuning berubah kecokelatan, banjir bercampur lumpur masuk ke dalam rumah warga hingga katanya alih lahan sewa lahan seperti menjadi fenomena bumbu perjalanan relokasi dilahan tersebut.

Berita miring akhir-akhir ini pun diklaim kondisi alam tersebut dampak dari eksploitasi di lahan kebun teh Kemuning. Pohon teh dianggap dicabuti karena adanya proyek, air tidak terserap ke tanah. Sehingga mengakibatkan banjir lumpur serta pencemaran air bersih yang dikonsumsi warga.

Setelah sekian lama memonitor, tokoh muda akrab disapa Boeng Awie, sekian dari aktivis senior media di Soloraya ikut angkat bicara. Dia mengatakan persoalan relokasi wisata yang ada di Kebun Teh Kemuning sisi barat dengan nama Argo Wisata Margo Lawu itu seyogyanya jangan digebyah uyah seperti dilokasi lain.

Awi berharap seluruh elemen masyarakat bisa membedakan dan bijak bermedia sosial. Proyek pengerjaan yang dilakukan saat ini, khususnya dilokasi itu selama ini dalam pengawalan serta kontrol sosial Media maupun Lembaga.

“Faktor alam cuaca ekstrem dengan luapan air hujan besar itu ya biasa. Pihak pelaksana tak memungkiri, yang namanya baru pengerjaan dampak-dampak alam untuk sementara pastinya ada. Saya yang lebih paham apa dari tujuan pengerjaan relokasi, ini masih pemerataan juga penataan. Toh pekerjanya juga semua dari warga masyarakat situ semua juga,” jelasnya.

Dia pun tidak menampik bahwa secara resmi pihaknya bersama kru dijawil mengawal pengerjaan relokasi yang dilakukan oleh Kodam IV Diponegoro bersama PT Rumpun Sari Kemuning. Menurutnya pengerjaan relokasi tersebut selama ini sudah sesuai SOP, kalaupun ada praktik pertambangan di perkebunan teh tersebut tepatnya di Desa Segorogunung alat berat hanya mengambil material di kawasan untuk pemerataan juga bukan untuk jual beli apalagi untuk kepentingan pribadi.

“Saya itu heran, kenapa masih saja adanya oknum justru sekitar wilayah yang membuat asumsi-asumsi itu. Bahkan dicuatkan dipublik, kenapa ga konfirmasi dulu biar berimbang. Sekali lagi, mari bijak bermedsos jangan mengklaim sepihak saja, agar tidak mudah menjustice. Kasihan masyarakat yang tidak tahu apa-apa bisa terseret pembodohan publik,” urai dia.

Perlu diketahui, saat ini proses relokasi masih dalam tahap pemerataan, pembersihan area juga untuk fondasi serta koordinasi pemerintah desa setempat. Destinasi tersebut akan dilengkapi dengan pendukung seperti area parkir, food court plaza untuk UMKM, kafe, mushola, playground dan glamping di atas kebun teh.

“Perencanaan pemanfaatan kawasan kebun teh Kemuning diatas lahan milik Kodam IV Diponegoro itu kan dikelola bertahap, masuk area Desa Gumeng dekat dengan Kemuning. Sederhananya, lha inikan sing duwe lahan digarap dewe, diapikne ragat dewe, manfaate buat banyak orang. Lha tapi kok ada saja oknum yang mempelintir ini itu, haruse bersyukur. Kan selama ini banyak pemanfaatan dipakai banyak orang, apa selama ini dipungut biaya, tidak kan…? Ayolah, mari yang bijak, pikir dengan jeli, jangan asal asumsi apalagi menuding. Mari saling mendukung yang baik saja, semua bisa diselesaikan duduk bersama kalau ada kendala, kita tidak alergi masukan, saran juga kritikan yang membangun kok,” Imbuh Awi.

Sementara itu, Kepala Desa Segorogunung Tri Harjono juga mengungkapkan, pihaknya mengetahui praktik relokasi yang dilakukan di wilayahnya.

Tri mengaku, lokasi yang ada alat beratnya tersebut masuk ke wilayah Jenawi dan status lahan sudah merupakan hak milik kodam IV Diponegoro. Tembusan juga menyasar lima pemerintahan desa serta tak ada praktik ilegal.

”Itu di daerah perbatasan Ngargoyoso dan Jenawi. Kelihatannya mau dirlokasi masuknya di wilayah Jenawi. Status lahan tersebut sudah hak milik kodam dan kami akui adanya surat tembusan itu,” ungkapnya.

Terpisah, salah satu satuan Kodam IV Diponegoro yang dipercaya mengawal pelaksanaan relokasi wisata Argo Wisata Margo lawu menjelaskan, studi kelayakan pengembangan kawasan yakni menggali potensi sekaligus merencanakan ide brilian di lahan.

Aspek penting pengembangan pariwisata ditakar dari aksesibilitas, transportasi dan atraksi. Namun oleh PT RSK telah disiapkan skenario penunjang nantinya untuk keperluan transit ke obyek alam dan religi.

Menurut dia saat ini diakuinya oleh pihak Kodam dan PT RSK dibantu pengembang merelokasi sendiri, tidak ada unsur alih tangan lahan aset. Relokasi tempatyang dii garap masuk berada di Desa Kemuning Ngargoyoso dan Desa Gumeng Jenawi, yang kerjasama dengan PT Rumpun Sari Kemuning. Kalaupun adanya alat berat hanya untuk memeratakan lahan dan mengambil matrial bahan yang di gunakan untuk sarana relokasi saja.

“Kawasan yang akan dikembangkan nanti diantaranya Resto, Rest Area, penginapan dan lahan parkir. akan ada gardu pandang, tempat parkir, souvenir, penginapan konsep alam, dan tempat bermain. Sedangkan sisanya akan digunakan untuk agrowisata dengan konsep pemulihan lahan atau konservasi,” bebernya. (Hendro)

Tinggalkan Balasan