Nur Sukarno selaku Anggota Komisi B DPRD Kabupaten PatiNur Sukarno selaku Anggota Komisi B DPRD Kabupaten Pati

PATI – Kilasfakta.com, Kurangnya minat generasi muda untuk terjun ke dunia pertanian berpotensi menghambat regenerasi petani di Indonesia. Hal ini akan menjadi salah satu kendala dalam menghadapi krisis pangan global. Diharapkan, adanya petani milenial umur 19-39 tahun menjadi salah satu indikator untuk menunjang regenerasi di sektor pertanian. Selain itu, petani milenial diharapkah dapat memanfaatkan kecangihan teknologi digital sehingga mampu menciptakan pertanian modern yang produktf dan berkelanjutan.

Hal itu disampaikan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pati, Sukarno. Dia mengaku prihatin atas lemahnya minat generasi untuk ikut terjun ke dunia pertanian. Pekerja di sektor pertanian yang semakin menua membutuhkan regenerasi petani yang berkelanjutan.

“Saya merasa prihatin, karena generasi muda kita kurang berminat untuk ikut di dunia pertanian, padahal, jumlah petani semakin waktu semakin berkurang. Rata-rata sudah berumur, sehingga perlu ada peremajaan atau tunas-tunas penerus dari kamu milenial,” ujarnya.

Menurut Anggota Dewan dari Komisi B ini, petani milenial ini sangat dibutuhkan kemampuannya dalam memanfaatkan kecanggihan teknologi digital yang mencakup penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan) modern, penggunaan internet atau telepon pintar termasuk teknologi informasi, penggunaan drone, dan penggunaan kecerdasan buatan.

Oleh sebab itu, Kader Partai Golongan Karya (Golkar) ini meminta pemerintah mencermati kondisi tersebut. “Intinya, perlu ada regenerasi petani di Indonesia, termasuk di Kabupaten Pati. Petani berusia tua atau di atas 55 tahun ke atas kian bertambah, tetapi jumlah petani milenial justru malah menurun. Padahal, sektor pertanian ini salah satu fungsinya adalah menjaga ketahanan pangan,” pungkasnya. (Adv)

Tinggalkan Balasan