Klaten – Kilasfakta.com, Polres Klaten berhasil membongkar jaringan pembuatan dan pengedar uang palsu (Upal) yang beroperasi di kabupaten Klaten.

Dalam pengungkapan tersebut, Tim Reskrim Polres Klaten telah mengamankan 3 tersangka di dua lokasi berbeda di wilayah Kecamatan Jatinom Klaten, serta dikecamatan Sidorejo Kota Salatiga, dan berhasil mengamankan bukti upal siap edar senilai Rp 465.700.000,berserta mesin pencetak upal.

Kapolres Klaten, AKBP Edy Suranta Sitepu mengatakan,terbongkarnya peredaran sindikat uang palsu di Kab.Klaten itu, berkat laporan masyarakat kepada kepolisian”,kata Kapolres, saat jumpa pers di Mapolres Klaten, Senin,29/6/20.

Lebih lanjut, AKBP Edy Suranta Sitepu mengungkapkan, Ketiga tersangka merupakan sindikat kasus yang sama pernah dilakukan di wilayah Bandung dan Semarang.

Ketiga tersangka, yaitu inisial N warga Pandeglang, Jawa Barat, TH warga Kabupaten Muarobungo, Jambi, dan AH warga Sukabumi, Jawa Barat.

Menurut Kapolres, berkat laporan masyarakat, petugas berhasil mengamankan satu tersangka di Desa Gedaren, Kecamatan Jatinom, Klaten berikut barang bukti upal sebanyak 1701 lembar.

Upal yang diamankan tersebut terdiri dari pecahan Rp 100.000 sebanyak 179 lembar upal, dan pecahan Rp 50.000 sebanyak 1522 lembar upal.” ungkapnya.

Lebih lanjut, Kapolres memaparkan, Saat ini kami juga masih melakukan pengembangan kasus untuk menemukan kemungkinan adanya tersangka lain. 

Kronologi Kejadian ini, berawal pada hari, Kamis (25/6) sekira pukul 18.00 WIB, Polisi mendapat informasi dari masyarakat bahwa tersangka berinisial N dengan mengendarai motor Honda Beat warna putih hendak bertransaksi uang palsu dengan pembeli berinisial A di Gedaren, Jatinom.

Lanjut dia, setelah Polisi menggrebek TKP dan melakukan pemerikasaan kepada tersangka N, maka dari tersangka N didapatkan uang palsu sebanyak 1701 lembar, terdiri dari pecahan Rp 50 ribu dan Rp 100 ribuan.

Kemudian dari pengembangan kasus tersebut, petugas mendapat keterangan bahwa upal tersebut dibuat bersama tersangka AH dan TH dirumah kontrakan di Salatiga.

Modus pembuatan upal tersebut dijual dengan perbandingan Rp 1 juta uang asli mendapat Rp 3 juta uang palsu. Atas perbuatannya,  ketiga tersangka dijerat Pasal 36 ayat (1) (2) jo, dan Pasal 26 ayat (2) UU Nomor 7/2011 tentang Mata Uang dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara,” pungkas Kapolres.

(Pur)

Terima kasih atas tanggapannya

%d blogger menyukai ini: