
Irawati, S.Pd.
Guru SDN Tluwuk Kecamatan Wedarijaksa Kabupaten Pati
Hakikat IPS di sekolah dasar adalah untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar sedini mungkin sebagai media pelatihan siswa agar menjadi warga masyarakat dan negara yang baik. Karakteristik IPS berbeda dengan mata pelajaran lain karena IPS merupakan integrasi dari disiplin ilmu sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya (Trianto, 2010:174). Kajian materi dalam IPS memuat berbagai disiplin kajian ilmu sosial dan mengkaji berbagai permasalahan sosial yang berkaitan dengan lingkungan sosial sesuai fakta yang terjadi di sekitar siswa dan yang mungkin dialami oleh siswa.
Menurut Banks dalam Susanto (2013: 141), pendidikan IPS merupakan bagian dari kurikulum sekolah yang bertujuan untuk membantu mendewasakan siswa agar dapat mengembangkan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai dalam rangka berpartisipasi di lingkungan masyarakat, negara, bahkan dunia. Muatan pembelajaran IPS dirancang untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman dan kemampuan analisis terhadap kondisi sosial masyarakat dalam memasuki kehidupan bermasyarakat yang dinamis. Tujuannya adalah untuk mempersiapkan siswa dalam menghadapi tantangan berat di kehidupan masyarakat global yang selalu mengalami perubahan. Hal ini sejalan dengan tujuan IPS menurut Supardi (2011:186-187) yaitu untuk menjadikan siswa sebagai warga negara yang baik, mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan inkuiri, melatih belajar mandiri, mengembangkan kecerdasan dan keterampilan sosial, menghayati nilai moral, serta mengembangkan kesadaran dan kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan.
Mengingat urgensi tujuan pendidikan IPS tersebut maka kegiatan pembelajaran IPS juga harus diarahkan pada keterampilan proses belajar agar siswa mampu berpartisipasi dalam masyarakat. Salah satu langkah persiapan yang dapat dilakukan oleh seorang guru adalah dengan melaksanakan kegiatan pembelajaran yang mendorong siswa untuk lebih aktif, misalnya dengan menggunakan model TGT.
Teams Games Tournament (TGT) adalah salah satu tipe model pembelajaran kooperatif yang melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa adanya perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya, dan mengandung unsur permainan (Shoimin, 2014:203). Penerapan model TGT pada muatan pembelajaran IPS diharapkan dapat menciptakan suasana belajar yang aktif dengan semangat dan gembira, saling berkomunikasi, saling berbagi, serta saling memberi dan menerima. Selain dapat meningkatkan pemahaman terhadap materi pembelajaran, keadaan tersebut juga dapat meningkatkan interaksi sosial antarsiswa karena TGT merupakan pembelajaran yang seolah-olah seperti permainan dan perlombaan.
Sintaks TGT yang dilakukan penulis diterapkan pada muatan pembelajaran IPS materi ASEAN di kelas VI SDN Tluwuk Kecamatan Wedarijaksa Kabupaten Pati. Langkahnya dimulai penyampaian tujuan pembelajaran dan motivasi, dilanjutkan dengan penyajian informasi berupa teks bacaan. Siswa kemudian dikelompokan ke dalam tim-tim belajar untuk mengerjakan tugas kelompok. Tahap selanjutnya adalah turnamen akademik. Setiap tim berlomba untuk mendapatkan skor tertinggi bagi kelompoknya masing-masing. Tahap terakhir yaitu mempresentasikan hasil kerja kelompok kemudian dilanjutkan evaluasi bersama tentang apa yang telah dipelajari serta pemberian penghargaan bagi kelompok terbaik dan anggota paling aktif.
Menurut Slavin (2007), TGT berhasil meningkatkan interaksi positif antarsiswa dan sikap menerima perbedaan dalam kelompok serta menumbuhkan keaktifan saat berdiskusi di kelompoknya. Keberadaan turnamen yang memuat unsur permainan dan perlombaan dalam pembelajaran ini mampu mengurangi kejenuhan belajar siswa di kelas sehingga dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa, khususnya pada materi ASEAN.

