PATI – Kilasfakta.com, Sistem pembelajaran yang selama ini diberlakukan dengan mengikuti pedoman Kurikulum Merdeka, memaksa guru untuk lebih aktif dalam menjalankan tugasnya. Dampak dari keaktifan tersebut, guru pun menghadapi dilema antara tugas mengajar di depan siswa dengan kewajiban memenuhi tugas administrasi yang harus dipenuhi. Alokasi waktu yang seharusnya digunakan untuk merancang pembelajaran yang menarik dan efektif seringkali terpakai untuk menyelesaikan tugas-tugas administratif.
Hal ini dapat mengurangi waktu yang dapat mereka habiskan untuk merenungkan cara terbaik untuk mengajar siswa mereka. Akibatnya, kualitas pengajaran bisa terpengaruh karena kurangnya persiapan yang matang.
Selain itu, terlalu banyaknya tugas administratif juga dapat meningkatkan tingkat stres dan kelelahan bagi guru. Hal ini bisa menjadi sumber frustrasi bagi guru, karena mereka merasa waktu dan upaya mereka teralihkan dari tugas utama mereka yaitu mendidik. Ketika psikologi seorang guru terganggu, maka secara otomatis akan berpengaruh terhadap kualitas mengajarnya di kelas. Dampak yang ditimbulkan akibat hal tersebut adalah siswa yang menjadi korban.
Kondisi ini mendapat tanggapan dari Hj. Muntamah, MM, M.Pd, Anggota Komisi D DPRD Kabupaten Pati. Aktivis perempuan ini mengajak kepada guru untuk tetap fokus pada tugas utama dalam upaya mencerdaskan anak bangsa. Terkait tugas administrasi, lanjut Muntamah, juga dikerjakan, namun jangan sampai mengorbankan anak didik.
“Guru ini menjadi garda terdepan dalam proses keberhasilan dan kemajuan di bidang pendidikan. Secara umum, guru kan sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik sehingga anak didik memiliki kemampuan secara akademik yang mumpuni,” tutup Muntamah. (Adv)

