Oplus_131072

PATI – Kilasfakta.com, Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur Kabupaten Pati sejak Sabtu (10/1/2026) menyebabkan banjir semakin meluas. Setelah sebelumnya melanda wilayah utara dan tengah, kini banjir merendam kawasan Pati bagian selatan, tepatnya di Kecamatan Winong dan Tambakromo.

Banjir terjadi akibat Sungai Godo tidak mampu menampung debit air yang terus meningkat. Luapan sungai menggenangi sejumlah desa, di antaranya Desa Godo dan Desa Gunungpanti di Kecamatan Winong, serta Desa Sinomwidodo, Desa Angkatan Kidul, dan Desa Angkatan Lor di Kecamatan Tambakromo.

Salah seorang warga Desa Gunungpanti, Harno, mengatakan air mulai meluap sekitar pukul 17.30 WIB. Air sungai meluber ke jalan dan permukiman, terutama di wilayah perbatasan Kecamatan Winong dan Tambakromo.

“Air Sungai Godo meluber ke jalan dan rumah warga. Jalan sudah tidak bisa dilewati kendaraan, baik roda dua maupun roda empat,” ujarnya.
Ia juga mengimbau masyarakat di wilayah sekitar aliran Sungai Godo, termasuk Kecamatan Gabus, untuk meningkatkan kewaspadaan seiring hujan yang masih turun.

Sementara itu, Kepala Desa Sinomwidodo, Rakimin, menyampaikan bahwa banjir telah merendam enam RT di wilayahnya. Genangan air melampaui permukiman di Dukuh Cengklik, Dukuh Ledokan, dan Dukuh Krajan, dengan ketinggian air mencapai 40 hingga 70 sentimeter.

“Wilayah terparah ada di Dukuh Ledokan, terutama RT 1, RT 2, RT 3, RT 6, dan RT 7. Hujan sejak siang hingga malam ini masih berlangsung,” ungkap Rakimin.

Selain rumah warga, tiga tempat ibadah turut terdampak meski air tidak sampai masuk ke dalam bangunan karena lantainya telah ditinggikan pascabanjir besar 2022. Warga pun mulai mengamankan perabotan rumah tangga, peralatan elektronik, serta kendaraan ke lokasi yang lebih aman.

Banjir juga menyebabkan lumpuhnya akses jalan antar desa. Ruas jalan Sinomwidodo–Gunungpanti dan Sinomwidodo–Angkatan Kidul tidak dapat dilalui karena ketinggian air mencapai 70 sentimeter hingga satu meter. Sementara jalur menuju Karangwono dan pusat Kecamatan Tambakromo masih bisa dilewati dengan kehati-hatian.

Rakimin menilai banjir dipicu tingginya curah hujan di wilayah hulu Sungai Godo yang diperparah oleh rusaknya kawasan hutan di Pegunungan Kendeng.
“Tidak adanya tanaman penahan air di kawasan hutan membuat aliran air dari hulu sangat deras,” jelasnya.

Ia berharap adanya upaya serius penghijauan kembali di kawasan Pegunungan Kendeng serta normalisasi Sungai Godo secara menyeluruh, termasuk di desa-desa yang belum tersentuh pengerukan sungai.

Untuk penanganan darurat, Pemerintah Desa Sinomwidodo telah berkoordinasi dengan Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta relawan guna memastikan keselamatan warga dan meminimalkan kerugian akibat banjir yang masih berpotensi bertambah. (KF)