Oleh: Khoeri Abdul Muid, S.Pd., M.Pd.
Kepala Sekolah SD Negeri Kuryokalangan 02, Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati
Hingga perkembangannya dewasa ini diklat implementasi kurikulum merdeka (IKM) dilakukan secara online melalui portal PMM (Platform Merdeka Mengajar) yang indikator keberhasilannya ditandai antara lain dengan lulus postes. Sementara itu kunci jawaban postes, entah dari mana datangnya, sudah tersebar di internet.
Hal itu membuat sebagian guru cenderung malas untuk menyimak dengan seksama video diklat di dalam PMM. Melainkan cukup menyekipnya dan langsung mengerjakan postes dengan bantuan kunci yang didapatnya. Maka tidak heran apabila hasilnya mendekati sempurna.
Kalau data itu 100% dipercaya, maka adalah bisa merupakan kode kuat akan terjadi “malapetaka” bagi IKM. Karena sudah bisa diprediksi, bila semua mengalami fenomena di atas maka IKM akan terancam terkendala serius.
Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu diambil langkah solutif. Goalnya adalah agar guru mau mempelajari materi diklat IKM sehingga mampu memahami dan mengamalkannya.
Dalam hal ini penulis menggagas strategi mengaktifkan forum KKG Sekolah yang penulis sebut Majelis Berbagi Community tentang materi IKM (MAGIC IKM) dengan pendekatan reciprocal teaching (pembelajaran terbalik) ala Anne Marie Palinscar dari Universitas Michigan dan Ane Crown dari Universitas Illinois USA.
Mengapa reciprocal teaching? Reciprocal teaching adalah strategi belajar melalui kegiatan mengajarkan teman. Pada strategi ini siswa (pembelajar) berperan sebagai guru menggantikan peran guru untuk mengajarkan teman-temannya.
Reciprocal teaching merupakan model pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk
belajar mandiri, kreatif, dan lebih aktif. Dimana siswa diberi kesempatan untuk mempelajari materi terlebih dahulu, kemudian siswa menjelaskan kembali materi yang dipelajari kepada siswa yang lain. Guru hanya bertugas sebagai fasilitator dan pembimbing dalam pembelajaran, yaitu meluruskan atau memberi penjelasan mengenai materi yang tidak dapat dipecahkan secara mandiri oleh siswa.
Reciprocal teaching cocok untuk pembelajaran andragogy sebagaimana dalam forum KKG. Di samping itu reciprocal teaching dapat untuk membuat mindset guru lebih kritis.
Bahwa dalam menghadapi dunia yang penuh persaingan dan tantangan saat ini diperlukan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan tinggi dalam memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi. Seseorang yang memiliki kemampuan tinggi harus dapat berpikir logis, rasional, kritis dan kreatif.
Berpikir kritis merupakan suatu proses yang bertujuan agar kita dapat membuat keputusan-keputusan yang masuk akal, sehingga apa yang kita anggap terbaik tentang suatu kebenaran dapat kita lakukan dengan benar.
Dalam konteks ini, KS diharapkan mampu merealisasikan pembinaan yang dapat mengaktifkan dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis pada guru, karena setiap guru memiliki potensi
berpikir kritis. Tetapi masalahnya bagaimana cara mengembangkan potensi tersebut melalui proses pembinaan.
Susanto (2015). menyatakan bahwa upaya untuk pembentukan kemampuan berpikir kritis guru yang optimal mensyaratkan adanya suasana pembinaan yang interaktif, guru dipandang sebagai pemikir bukan seorang yang melulu dibina/diajar, dan pengajar (pembina) dalam hal ini KS berperan sebagai mediator, fasilitator, dan motivator yang membantu guru dalam belajar bukan mengajar.
Dalam pembinaan yang interaktif, KS dapat mempergunakan berbagai pendekatan pembinaan, salah satunya adalah dengan pendekatan reciprocal teaching. Trianto (Noriasih, 2011) menyatakan bahwa Reciprocal Teaching terutama dikembangkan untuk membantu KS menggunakan dialog-dialog pembinaan yang bersifat kerja sama untuk mengajarkan pemahaman bacaan mandiri.
Adapun sintaks MAGIC IKM bisa diadopsi ala Suyitno (2006:34), sebagai berikut: 1. Kepala sekolah (KS) membagi jatah materi PMM kepada guru berikut jadwal presentasinya. 2. Guru mempelajari materi sesuai jatahnya masing-masing dan mempersiapkannya untuk dipresentasikan. 3. Guru lainnya diminta untuk membuat pertanyaan terkait materi yang sedang dipelajari. 4. Guru terjadwal mempresentasikan materi. 5. Guru lain diberi kesempatan untuk mengklarifikasi materi yang sedang dibahas yaitu dengan bertanya tentang materi yang masih dianggap sulit. KS juga berkesempatan untuk melakukan kegiatan tanya jawab untuk mengetahui sejauh mana pemahaman konsep guru. 6. Guru mendapat tugas soal latihan secara pengembangan materi tersebut. 7. Guru diminta untuk menyimpulkan materi yang sedang dibahas. Bila dirasa perlu sesekali bisa menghadirkan nara sumber yang dianggap kompeten.
Alhasil, MAGIC IKM yang penulis gagas fainsya alloh akan mendorong guru untuk mau mempelajari materi IKM secara seksama, minimal materi yang akan dipresentasikannya. Karena kalau sampai tidak menguasai materi maka ia akan merasa malu di hadapan teman-temannya. Atau dengan kata lain strategi reciprocal teaching mampu “memaksa secara halus” agar peserta mau belajar.
Di samping itu, karena materi yang disajikan dalam MAGIC IKM berbeda-beda dari keseluruhan materi diklat IKM maka guru tak terasa akan semakin memahami keseluruhan materi PMM. Dengan demikian, diharapkan IKM semakin sukses. (*)

