Sutik dari Tegalarum, Margoyoso

PATI – Kilasfakta.com, Pandemi covid-19 yang hingga sekarang masih belum berakhir menimbulkan dampak yang luar biasa. Tak hanya di bidang kesehatan dengan istilah reaktif, OTG, suspek, positif serta istilah lainnya, namun pandemi ini juga menimbulkan dampak pada kelompok seniman di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Untuk bertahan hidup, mereka harus rela menjual barang berharga miliknya.

Dalam obrolan di suatu kesempatan dengan para seniman di Pati, Kilasfakta.com berhasil mewawancarai sejumlah seniman. Rata-rata, mereka dalam kondisi terpuruk dari segi perekonomian. Dan mayoritas mereka menyayangkan sikap Pemkab Pati yang masih belum mengijinkan para seniman untuk menggelar pentas.

“Sebagai pengamen panggung, saya menyayangkan sikap Pemkab Pati, setidaknya ada pencerahan kepada kami yang mencari nafkah di atas panggung. Jika dilarang untuk pentas, setidaknya kita diberi solusi atau jalan keluar agar kami bisa makan dan menafkahi keluarga,” ujar Sutik musisi asal Desa Tegalarum Kecamatan Margoyoso kepada Kilasfakta.com beberapa hari lalu.

Utik dari Bakaran, Juwana

Dia mengaku, untuk bertahan hidup harus kerja serabutan. “Bahkan jual alat musik yang saya punya,” tegasnya.

Salah seorang seniman lain, Deni asal Tambaharjo, Kecamatan Pati mengaku nasibnya kurang beruntung selama hampir setahun belakangan ini. “Saya sangat merindukan pekerjaan saya. Kami sangat mengharap kebijakan dan solusi dari pemerintah agar para seniman bisa bekerja lagi dan mempunyai penghasilan,” imbuhnya.

Deni dari Tambaharjo, Kec. Pati

Seniman asal Pati utara itu mengaku sudah menjual barang berharga yang dimilikinya. “Saya sudah jual sepeda motor satu unit, sertifikat tanah saya gadaikan, mobil tak iris dan saat ini sudah tidak punya mobil lagi, Mas,” keluhnya.

Aris Hendro dari Growong Juwana

Aris Hendro, dari Growong, Juwana, mengatakan, paguyuban sound system dari Pati Timur saat ini sangat prihatin dengan nasib para pemilik sound system. Rata-rata, lanjutnya, tidak ada tanggapan, dan terakhir disewa pada bulan Maret 2020. “Sejak Maret sampai sekarang off, tidak ada tanggapan sama sekali,” ungkapnya.

Senada, Irham dari Karang, Juwana

Senada, Irham dari Karang, Juwana mengaku sangat kasihan dengan rekan-rekan seniman, apalagi pemilik saounsystem. “Banyak yang terjual sampai sekarang. Power sudah terjual, genzet, diesel semua sudah terjual untuk makan sehari-hari selama tidak ada tanggapan,” keluhnya.

Sumardi, MC dangdut dari Wedarijaksa

Sumardi, yang biasa menjadi MC dalam pertunjukkan dangdut juga mengaku sedih dengan keadaan sekarang ini. Warga Desa Wedarijaksa itu berharap, Pemkab Pati bisa memberikan solusi bagi para seniman, agar bisa pentas kembali, sehingga ada aktivitas, dan mendapatkan penghasilan untuk keluarganya.

Sementara itu, Jukli seniman dangdut dari Pati memohon kepada pemangku keijakan di kabupaten Pati untuk berkenan membuka lapangan kerja bagi para seniman. “Kami kelaparan, Pak. Sudah sebelas bulan ga kerja,” tagsnya.

Jukli, seniman dangdut dari Kota Pati

Dia mengaku mempunyai pengalaman, yaitu saat akan pentas di salah satu desa di wilayah Gabus. “Ada warga yang punya hajat dan mengundang kami bersama teman-teman untuk pentas. Namun, saat masih dalam perjalanan, kami menerima telepon dari pihak yang punya hajat, dan mengabarkan kalau pentasnya dibatalkan oleh aparat. Kami pun balik, tidak jadi pentas, dengan tanpa mendapatkan hasil sepeserpun,” kenangnya sedih.

Ajisoko, dari Margorejo

Hal senada juga disampaikan oleh Utik, seniman tertua dari Bakaran Juwana, dan Ajisoko dari Margorejo. Keduanya meminta kepada pemerintah untuk bisa memberikan ruang kepada para seniman untuk bekerja kembali. “Yang menangis bukan hanya saya, Pak. Tapi, anak-anak saya, keluarga saya, dan juga para seniman….,” ungkapnya sambil menahan tangis.

Pewarta : Purwoko

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *