Bambang Siswanto, S.Pd.

SD Negeri Sitimulyo 02 Kecamatan Pucakwangi Kabupaten Pati

 

Mengasah Kemampuan Berpikir Kritis Kelas VI dengan Problem Based Learning

Kemampuan berpikir kritis merupakan salah satu keterampilan penting yang perlu dikembangkan sejak dini. Pada tingkat pendidikan dasar, khususnya di kelas VI, metode pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dapat menjadi pendekatan yang efektif dalam mengasah kemampuan berpikir kritis siswa.

Model Pembelajaran Problem Based Learning merupakan penggunaan berbagai macam kecerdasan yang diperlukan untuk melakukan konfrontasi terhadap tantangan dunia nyata, kemampuan untuk menghadapi segala sesuatu yang baru dan kompleksitas yang ada, Rusma (2010).

Melalui PBL, siswa diajak untuk aktif berpikir, menganalisis masalah, dan mencari solusi secara kreatif. Dalam PBL, siswa dihadapkan pada situasi atau masalah nyata yang membutuhkan pemecahan. Siswa diberikan tantangan untuk menganalisis masalah tersebut, mengidentifikasi penyebab, dan mencari solusi yang paling tepat. Proses ini melibatkan kemampuan berpikir kritis siswa dalam merumuskan argumen, mempertimbangkan berbagai sudut pandang, dan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang ada. Selain itu melalui PBL, siswa diajak untuk menganalisis berbagai informasi terkait dengan masalah yang dihadapi. Mereka perlu mengumpulkan data, mengidentifikasi fakta-fakta relevan, dan mengevaluasi kebenaran atau validitas informasi tersebut. Proses analisis ini memperkuat kemampuan berpikir kritis siswa dalam menyusun argumen berdasarkan bukti yang ada dan membuat kesimpulan yang logis.

Penulis selaku guru kelas VI SD Negeri Sitimulyo 02 Kecamatan Pucakwangi Kabupaten Pati, menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning. Penulis menerapkannya di pembelajaran matematika  pada materi Data.

Langkah-langkah pembelajaran guru dimulai dengan orientasi pada peserta didik. Kegiatan pembelajarannya dengan memberikan permasalahan yang akan dipecahkan secara berkelompok. Masalah yang disajikan berkaitan dengan data uang saku siswa kelas VI dan uang saku siswa kelas III. Selanjutnya adalah Mengorganisasikan siswa untuk belajar. Guru harus memastikan setiap anggota memahami tugas masing-masing dan siap untuk mengikuti pelajaran. Misalnya dengan mengecek alat tulis yang akan digunakan oleh siswa. Selanjutnya, Guru membimbing penyelidikan individu maupun kelompok. Kegiatan yang dilakukan guru adaah memantau keterlibatan peserta didik dalam pengumpulan data selama proses penyelidikan. Guru meminta siswa untuk mencatat hasil kumpulan data tersebut. Langkah selanjutnya adalah mengembangkan dan menyajikan hasil karya. Kegiatan yang dilakukan guru adalah memantau diskusi dan membimbing pembuatan laporan sehingga karya setiap kelompok siap untuk dipresentasikan. Langkah selanjutnya adalah Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Kegaitan yang dilakukan adalah guru membimbing presentasi dan mendorong kelompok memberikan penghargaan serta masukan kepada kelompok lain. Guru bersama peserta didik menyimpulkan materi

Dalam PBL, siswa diajak untuk bekerja secara kolaboratif dalam mencari solusi atas masalah yang dihadapi. Mereka perlu berdiskusi, berbagi ide, dan bekerja sama dalam tim. Proses kolaboratif ini memperkuat kemampuan berpikir kritis siswa dalam mempertimbangkan sudut pandang yang berbeda, menyelesaikan konflik, dan mencapai kesepakatan bersama. Melalui kolaborasi, siswa dapat belajar untuk menghargai keragaman pendapat dan bekerja efektif dalam tim.

 

Dengan mengimplementasikan Problem Based Learning di kelas VI, kita dapat mengasah kemampuan berpikir kritis siswa sejak dini. Melalui pendekatan ini, siswa dapat menjadi individu yang mampu menganalisis masalah dengan baik, berpikir secara kritis, dan menghasilkan solusi yang inovatif. Kemampuan ini akan sangat bermanfaat bagi mereka dalam menghadapi tantangan di masa depan.

Tinggalkan Balasan