*Oleh: Khoeri Abdul Muid, Kepala SDN Kuryokalangan 02, Kecamatan Gabus
Kabupaten Pati kini memiliki amunisi baru untuk menggapai lompatan pendidikan: GARUDA—akronim dari Generasi Adaptif, Rajin, Unggul, dan Berdaya Saing. Tagline yang diluncurkan langsung oleh Bupati Pati, Bapak H. Sudewo, S.T., M.M., ini bukan sekadar hiasan kata dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional 2025, tetapi sebuah deklarasi politik pendidikan yang visioner dan progresif.
Sebagai Kepala SDN Kuryokalangan 02, saya melihat langsung antusiasme guru dan siswa saat peluncuran di Stadion Joyokusumo. Sorak-sorai itu memancarkan harapan baru. Namun di balik euforia, kita semua harus menjawab satu pertanyaan krusial: sejauh mana kesiapan kita mewujudkan GARUDA sebagai mesin penggerak transformasi pendidikan yang konkret?
Dari Slogan ke Gerakan Nyata
GARUDA memuat empat kata kunci strategis yang merepresentasikan peta jalan pendidikan abad ke-21. Adaptif menjawab tantangan zaman yang disruptif; Rajin menekankan etos kerja dan kedisiplinan; Unggul mengarah pada kompetensi dan karakter; sementara Berdaya Saing memperkuat kesiapan menghadapi kompetisi global.
Saya memandang tagline ini sangat sejalan dengan arah kebijakan nasional seperti Merdeka Belajar, Profil Pelajar Pancasila, dan SDG’s Goal 4 tentang pendidikan berkualitas. Apa yang dicanangkan Bapak Bupati adalah bentuk konkret mimpi besar pendidikan nasional: membentuk generasi yang tangguh, berakar lokal, dan siap bersaing secara global.
GARUDA dalam Kacamata Teori Pendidikan
Dari sisi teori, GARUDA punya landasan kuat. Piaget dan Vygotsky dalam konstruktivisme menekankan pentingnya peserta didik membangun pengetahuan secara aktif—inti dari Adaptif dan Unggul. Rajin beririsan dengan behaviorisme, yang mengedepankan pembiasaan perilaku positif. Sementara Berdaya Saing menggema dalam pemikiran humanistik dan emansipatoris ala Paulo Freire: pendidikan sebagai alat pemberdayaan masyarakat.
Karena itu, sebagai praktisi pendidikan di daerah, saya menilai GARUDA adalah lebih dari sekadar slogan: ia adalah model pendidikan daerah yang punya pijakan teori dan relevansi global.
Cermin Data: Jalan Masih Panjang
IPM Kabupaten Pati menunjukkan kemajuan, namun belum melampaui rata-rata Jawa Tengah. Skor PISA Indonesia pun masih rendah, dengan literasi dan numerasi di papan bawah dunia. Di tingkat lokal, angka partisipasi sekolah menengah atas mencapai 85%—bagus, tetapi masih menyisakan PR besar untuk akses pendidikan di daerah pelosok.
Inisiatif Bapak Bupati berupa beasiswa afirmatif patut diapresiasi. Mahasiswa Pati yang lolos ke PTN kini mendapat dukungan finansial hingga Rp2,5 juta per bulan. Ini bukan hanya memutus rantai kemiskinan, tetapi juga mempertegas bahwa pendidikan adalah hak, bukan sekadar privilese.
Bapak Bupati menegaskan: “Tagline GARUDA bukan sekadar jargon. Ini adalah komitmen kami membangun generasi Pati yang siap menghadapi tantangan zaman.”
Sebagai kepala sekolah, saya menyambut baik komitmen ini dan siap menjadi bagian dari gerakan bersama untuk memastikan tidak ada anak-anak Pati yang tertinggal.
Tantangan dan Harapan
Kita masih berhadapan dengan isu klasik: kualitas guru yang belum merata, kesenjangan infrastruktur, serta ketimpangan akses digital. GARUDA akan diuji di lapangan: bisakah ia menjadi gerakan transformatif, bukan sekadar jargon yang memudar seiring waktu?
Sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil menjadi kunci. Kami di satuan pendidikan siap menyambut dan menjalankan amanat ini dengan sepenuh hati, namun tentu membutuhkan dukungan yang konsisten dan berkelanjutan.
Penutup: GARUDA dan Genius Bertaqwa, Sinergi Menuju Pendidikan Berkualitas
Saya meyakini, di tangan kepemimpinan yang visioner seperti Bapak Bupati, GARUDA bukan hanya lambang yang terbang tinggi di udara, tetapi juga roh yang menggerakkan langkah anak-anak Pati menuju masa depan yang lebih cerah. Di SDN Kuryokalangan 02 dan seluruh sekolah di Pati, kami siap menjadi garda terdepan untuk mewujudkan visi besar ini.*

