PEKALONGAN – Kilasfakta.com, Pelaksanaan proyek revitalisasi SMP Negeri 1 Tirto, Kabupaten Pekalongan mendapat bantuan dari Pemerintah yang dilaksanakan oleh Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) dengan jumlah bantuan senilai Rp. 825.370.000,- sumber dana dari APBN tahun 2026, menjadi sorotan publik setelah ditemukan dugaan belum diterapkannya standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) secara optimal di lokasi pekerjaan.
Berdasarkan hasil pantauan di lapangan, sejumlah pekerja terlihat melakukan aktivitas konstruksi tanpa menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) secara lengkap, seperti helm keselamatan, rompi kerja, sepatu pelindung, maupun perlengkapan keselamatan lainnya. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap potensi risiko kecelakaan kerja.
Gambar: Salah satu foto para pekerja yang mengabaikan 10 peraturan Kesehatan dan Keselamatan Kerja dalam Program Revitalisasi SMPN 1 Tirto, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan
Padahal, penerapan K3 merupakan salah satu aspek penting dalam setiap pekerjaan konstruksi guna memberikan perlindungan kepada tenaga kerja sekaligus memastikan pekerjaan berlangsung sesuai ketentuan yang berlaku. Penggunaan APD menjadi bagian dari upaya pencegahan terhadap risiko cedera maupun kecelakaan di lokasi proyek.
Selain penggunaan APD, masyarakat berharap pelaksanaan revitalisasi SMPN 1 Tirto yang dibiayai menggunakan anggaran pemerintah tidak hanya mengedepankan kualitas hasil bangunan, tetapi juga memperhatikan aspek keselamatan para pekerja selama proses pembangunan berlangsung.
Kepala Tukang proyek revitalisasi SMPN 1 Tirto, Slamet ketika di mintai keterangan menyampaikan, bahwa progres yang dilaksanakan oleh Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) dan pengawasan, terkait program revitalisasi tersebut tidak pernah ada di lokasi pekerjaan.
, Ng
“Ya kalau ada keperluan apa saja, saya mintanya Kepala sekolahnya langsung. Untuk pengawas proyek tidak ada, cuma saya. Contohnya, para tukang mengerjakan ini, setelah itu mengerjakan yang lain, itu semua saya,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Kepala tukang menambahkan, bahwa pekerjaan tersebut sudah berjalan kurang lebih tiga Minggu, dan para pekerja orang dari Bandengan campur orang sini.
“Pekerjaan ini sudah dilaksanakan kurang lebih tiga Minggu, dan yang kerja sebagian orang Bandengan, yang sebagian lagi orang dari Galih juga Sepacar”, imbuh Slamet, pada Kamis (16/7/2026).
, Ng
Dalam hal ini, ada dugaan bahwa proyek revitalisasi SMPN 1 Tirto dilaksanakan sendiri oleh Kepala Sekolah, tanpa Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) dan juga tanpa pengawasan yang ketat dari dinas terkait dalam program revitalisasi yang masih di laksanakan pada saat ini.
Hingga berita ini diturunkan, belum diperoleh keterangan resmi dari pihak pelaksana proyek maupun pihak SMP Negeri 1 Tirto terkait dugaan yang disebut di lokasi pekerjaan. (Kf)