KUDUS – Kilasfakta.com, – Peluang bertani pisang merupakan potensi menjanjikan yang belum dikelola secara profesional oleh para petani di kota Kretek. Budidaya pisang memiliki prospek ekonomi yang lebih besar dibanding dengan komoditas tanaman semusim lainya, sebab menanam pisang seribu pohon tahun ini, tahun depan bisa menjadi lima ribu pohon bahkan lebih dari tunas-tunas barunya, dan menanam satu kali bisa panen berkali kali dan panen seterusnya, artinya modal tanam satu kali bisa untung terus tanpa harus beli bibit baru.

 

Pria asal Klaten Tejo Pramono ( 64 th ) patut di jadikan isnpirasi bagi para pensiunan lain di Indonesia, dengan menekuni dunia pertanian dia mampu meraup keuntungan jutaan dalam satu bulan. Tidak butuh berkantor seperti pegawai negeri seperti saat jadi PNS sebelumnya, berbekal tanah seluas 8000m2 yang ia garap dan berbekal kesabaranya dalam merawat kebun pisang yang dimilikinya dalam waktu satu tahun Tejo mulai merasakan manisnya pisang kapok pipit kuning yang di budidayakan di lahan nya.

 

Tanah yang cukup subur di wilayah Kabupaten Kudus membuat komunitas petani pisang yang dipelopori oleh Tedjo semakin diminati oleh masyarakat. Mereka memberikan contoh dan sosialisasi agar para petani mau membudidayakan pisang sebagai salah satu komoditas unggulan dan memilki profit yang tinggi.

Jenis pisang yang memiliki nilai jual tinggi di pasaran adalah pisang raja, pisang ambon, kepok pipit. Tejdo Pramono telah memulai menanam pohon pisang kepok pipit kuning di lahan sebelah timur rumhnya seluas 8000 M2 di daerah gondang manis sebelah timur Universitas Muria Kudus.

Berdasarkan pengakuan Tedjo, mengawali usaha Berkebun pisang baru sekitar empat tahun. Ia mulai melirik dan akhirnya terjun dan menanam pohon pisang ini setelah melihat prospek bertani pisang yang cukup menjanjikan.

Tejo Pramono tidak memiliki latar belakang di dunia pertanian namun dia memiliki kecintaan dalam bidang pertanian, karena suka akhirnya memiliki semangat untuk belajar bidang pertanian. Belajar dari teman-temanya dan juga melalui diskusi diskusi ringan, tidak hanya sekedar teori tapi sekaligus praktek terjun bertani pisang.

 

Saat ini telah memiliki 5000 pohon pisang dengan tumpangsari tanaman empon empon dan menanam berbagai jenis pisang lainnya, seperti pisang raja, pisang ulin, pisang ambon dan lain lain.

Tejdo Pramono sendiri memiliki obsesi dan cita-cita untuk bertani secara sungguh sungguh sudah cukup lama. Sebelumnya dia seorang penilik sekolah PAUD di kecamatan Bae Kudus. Dari pengalaman sebagai PNS dan penilik sekolah selama 35 tahun, dia selalu memberikan bimbingan kepada para siswa siswi dan juga para guru tentang pengelolaan managemen sekolah dan kemandirian, dengan harapan ilmunya bisa dimanfaatkan bagi para guru untuk praktek langsung dilapangan.

Dari pengalamannya itulah bersama teman-temanya Tedjo giat memberikan pengarahan kepada para relasi disekitar nya juga melalui group WA untuk bertani yang produktif salah satunya adalah bertani pisang.

‘’Kebetulan Rumah saya dekat dengan lahan kosong yang tidak di manfaatkan, jadi memang pas kalau kemudian saya terinspirasi menjadi petani pisang,’’ jelas Tejdo. Ia sendiri mulai menanam pisang di Gondang Manis ini baru dua tahun lalu.

Awalnya dia melihat kondisi tanah di sebelah timur rumahnya kosong dan tidak dikelola. Setelah diamati, ternyata tanah itu cukup subur untuk ditanami pisang yang berpotensi untuk dipasarkan. Dengan modal yang cukup, akhirnya bibit mulai didatangkan dan ditanam.

“Untuk merawat pisang, perlu teknik khusus. Misalnya, kontrol setiap hari, kebutuhan air harus cukup. Saat berbuah, buah pisang harus dijaga agar tidak dimakan oleh serangga atau terserang hama,” ungkapnya, Bahkan saya setiap pagi selalu melakukan kontrol rutin, serta membersihkan rumput dan satu persatu pohon pisang saya cek, sambil membersihkan gedebok pisang yang sudah mulai menguning, dan melihat pohon pohon yang terkena hama ulat ataupun lainnya, tambahnya.

Tejo Pramono saat ini mulai menganalisa dan menghitung, prospek bertani pisang ini cukup cerah, dari menjual bibitnya saja sudah untung atau balik modal, “setelah saya amati satu persatu, pisang baru usia 5 bulan saja sudah mulai tumbuh tunas baru, ada yang 2 ada yang 3 tunas, bahkan ada yang 4 atau 5 tunas, kalau dibuat rata rata 2 tunas per pohon maka tahun depan dari 5000 pohon ini akan menjadi lebih dari sepuluhribu pohon pisang” terangnya.

Dari hasil surve di pasar tradisional sekitar Kudus, harga pisang kepok cukup fantastis, satu tandan dengan isi 12 sisir bisa laku di atas Rp.100.000;, tergantung type dan jumlah sisirnya.

“Marketnya tidak hanya di Kudus saja. Tapi di Semarang, dan para pembuat ceriping pisang sekitar Kudus sudah banyak yang meminta. Kalau lokal yang minat kebanyakan dari bakul atau toko toko buah’’ ungkapnya.

 

Salah satu misi Tedjo Pramono menanam pisang adalah dalam rangka mewujudkan konsep “ *khoirunas anfuhum linnas* ”, sehingga setiap di kebun Tedjo Pramono selalu berdo’a dengan bahasa jawa “

Tolong yg doa menanam pisang.

Bismilahirohmanirohiiim.

Niat ingsun nandur pisang karena ALLAH.

” mugi dipun paringi saged gesang ngrembaka lan nderbala subur makmur tanpa rabuk wohipun kathah anak kathah tinebihna saking hama lan saged murakabi dhumateng keluwarga kula sumrambah tiyang sanes lan tiyang kathah saha saged turun tumurun ngantos saklaminipun migunani dhumateng masyarakat .Aamiin …Aamiin..Aamiin..Yaa Robbal Aalamiin.

 

Dia menambahkan, usia panen pisang kepok juga beraneka ragam. Bisa jadi, 11-12 bulan baru berbuah. Dengan begitu, petani yang menanam pisang jenis kepok bisa menuai untung.

“Saya kira di Kudus tanahnya cukup cocok untuk pisang jenis ini. Yang terpenting irigasi dan cara tanamnya yang pas,’ pungkasnya. Bahkan Pramono akan dengan senang hati menerima warga yang ingin berkonsultasi masalah pisang.

Bila ingin konsultasi tentang perpisangan bisa menghubungi Hp. *081914020218* . ( *Taufiq* )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *