PEKALONGAN – Kilasfakta.com, Dalam perayaan hari Lebaran di Kota Pekalongan, ada suatu momen dimana warga masyarakat Pekalongan selalu ingat dan tahu bahwa tradisi Syawalan merupakan momen, yang dirayakan setelah hari raya Idul Fitri 1 syawal 1447 H. (21/3/2026), Syawalan jatuh pada hari Sabtu 8 Syawal 1447 H. (28/3/2026).

Hari tersebut berbagai macam tradisi digelar di wilayah masing-masing yang mungkin mempunyai nilai sejarah tersendiri bagi masyarakat setempat, seperti tradisi Lopis Raksasa di Krapyak, Gundukan Megono di Kajen dan masih banyak lagi yang lainnya.

Kota Pekalongan
Foto : Wakil Walikota Pekalongan, Balgis Diab, Kepala Dinas PUPR, Khaerudin, Sekcam Pekalongan Utara, Ainur Rofik dan jajaran Pemerintah Kota Pekalongan serta warga masyarakat Bugisan ketika menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya

Dalam suasana hari raya Idul Fitri 1447 H, tradisi Syawalan tahun 2026 ini, pemuda-pemudi kampung Bugisan Kelurahan Panjang Wetan, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan berinisiatif menggelar perayaan Syawalan dengan membuat kue Bugis yang disusun menyerupai gundukan, yang mana kue tersebut identik dengan nama kampung warga masyarakat setempat yaitu Kampung Bugisan.

Kegiatan 1447 (Seribu Empat Ratus Empat Puluh Tujuh) kue Bugis, dalam rangka tradisi Syawalan digelar di Fasum RW. 01 Bugisan Kelurahan Panjang Wetan. Warga tampak antusias mendatangi dan melihat suasana yang sangat ramai serta meriah dalam acara tersebut.

Oplus_0

Selain itu, kegiatan ini merupakan inisiatif pemuda-pemudi kampung Bugisan, tidak hanya ajang hiburan, namun juga menjadi sarana mempererat tali silaturahmi antar warga dan semangat gotong-royong.

Acara Syawalan di Bugisan kali ini dihadiri Wakil Walikota Pekalongan, Balgis Diab, Kapala dinas PUPR, Khaerudin, Kadin Bappeda, Andriyanto, DLH yang diwakili Ade, Kadin ATR/BPN, Sekcam Pekalongan Utara, Ainur Rofik, Lurah Panjang Wetan, Asrofudin S.Ak. beserta para tamu undangan.

Pada kesempatannya, Wakil Walikota Pekalongan berharap, bahwa kegiatan seribu Bugis ini akan mengundang banyak pengunjung, bisa menjadi destinasi wisata dan rasa syukur warga Bugisan yang hingga saat ini terbebas dari banjir.

“Semoga kegiatan ini, sebagai bentuk rasa syukur warga masyarakat Bugisan yang telah bebas dari banjir dan agar kegiatan ini bisa dilestarikan, supaya menjadi sebuah tradisi”, tutur Balgis, pada (28/3/2026).

Sebelumnya ketua RT. 01 Bugisan, Riyatno menyampaikan, bahwa kegiatan ini bermaksud untuk menciptakan rasa syukur warga yang telah bebas dari banjir, rasa persaudaraan dan kerukunan antar warga masyarakat Bugisan.

“Acara gundukan kue Bugis ini konsepnya, menciptakan kerukunan antar umat beragama, karena di Bugisan ini terdiri dari beberapa Entis berbeda dan banyak rumah ibadah. Ada Masjid, Gereja, Wihara dan lainnya dalam ikatan Bhineka tunggal Ika, berbeda-beda namun bersatu tidak pernah ada perselisihan (Konflik)”, ujarnya.

Sementara Lurah Panjang Wetan, Asrofudin juga Mengatakan, Alhamdulillah pada tahun warga Bugisan bisa melaksanakan kegiatan tumpeng seribu kue Bugis, yang mana kampung ini sebelumnya selalu digenangi luapan air banjir, namun sudah hampir 3 tahun ini warga Bugisan telah bebas dari banjir dan bisa melaksanakan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat.

“Jadi kegiatan tumpeng seribu Bugis ini, sebagai wujud rasa syukur warga Bugisan yang telah bebas dari banjir dan Alhamdulillah, walau di sini banyak berbagai etnis yang berbeda, tetapi saling hormat menghormati serta selalu mengedepankan toleransi”, ungkapnya. (Kf)