KLATEN-Kilasfakta.com, Para pengusaha dan pengrajin cinderamata bebek-bebekan di Desa Jambu Kulon, Kec.Ceper-Klaten, tetap eksis eksport kerajinan bebek-bebekan ke mancanegara, walaupun ditengah masa pandemi COVID-19 yang sedang mengguncang dunia.

 

Hal itu disampaikan oleh satu pengrajin cinderamata bebek- bebekan asal Desa Jambukulon Supriyanto, Kerajinan bebek -bebekan produksinya selama pandemi COVID-19 dari tahun 2020 sampai sekarang untuk permintaan ekspor tetep eksis dan berjalan dengan baik serta tidak ada kendala yang berarti.

 

Kerajinan cenderamata bebek- bebekan produksinya yang mampu menembus pasar luar negeri, masih sangat digemari konsumen mancanegera, antara lain dengan aksesori mengenakan bebek yang mengenakan topi, sepatu bot, dan ski.

 

 

Panca pasar mancanegara yang masih meminta kerajinan bebek- bebekan produksinya antara lain Yunani, Jerman, dan Belanda. Pada masa pandemi COVID-19 hanya negara Yunani yang tidak melakukan order.

 

“Ekspor terakhir ke Yunani pada Februari 2020, sedangkan Negara lainnya masih tetap berjalan seperti biasa,” kata Supriyanto.

 

Lebih lanjut, Supri sapaan akrabnya menambahkan, selama tahun 2020 ekspor kerajinan bebek- bebekan buatannya selain ke Yunani, juga dikirim ke Jerman dan Balanda pada April, Juni, Agustus, September dan November. Rata-rata setiap bulannya ekspor kemancanegara mencapai 500 hingga 1.000 buah.

 

 

Permintaan kerajinan bebek asal Klaten di pasar luar negeri memang biasanya ada dari Australia, Belgia dan Amerika Serikat. Tetapi adanya pandemi ini, memang tidak ada orderan. Sebagai gantinya, ada dari Belanda dan Jerman, sehingga produksi juga tetap berjalan seperti biasa.

 

“Saya dibantu oleh enam tenaga kerja, mampu memproduksi kerajinan bebek-bebekan yang rata-rata 1.000 buah per bulan. Dalam proses pembuatan cinderamata bebek-bebekan ini, harus membutuhkan keahlian khusus, dan ketelitian sehingga cukup rumit. Saya harus memproduksi sesuai pesanan pelanggan.”

 

Untuk harga dari miniatur bebek-bebekan itu masih tetap seperti biasanya, yang berkisar  Rp15.000 hingga Rp100.000 per buah tergantung ukuran. Jika satu set isi tiga buah harga antara Rp75.000 hingga Rp250.000 per setnya, dengan omset antara 20 sampai 30 juta perbulannya.

 

Terkait untuk bahan baku bonggol bambu, tidak ada masalah yang berarti, karena semua bahan baku itu dengan mudah didapatkan didaerah Cawas, dan daerah Ngawen- Gunung Kidul,” pungkasnya.( Purwanto).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *