Asyiknya Belajar Melalui Proyek Berbasis Kearifan Lokal

Oleh: Farida Hikmawati
Mahasiswa MPD Universitas Muria Kudus
Pembelajaran adalah proses interaksi siswa dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran juga dapat diartikan sebagai bantuan yang diberikan guru kepada siswa agar terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan.
Untuk menciptakan suasana yang kondusif, interaktif, inspiratif, menyenangkan, dan memotivasi siswa dalam pembelajaran dibutuhkan suatu model pembelajaran. Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau pola yang digunakan sebagai pedoman dalam melaksanakan pembelajaran di kelas (Trianto, 2015). Park dan Choi (2015) menerangkan bahwa model pembelajaran yang inovatif dapat meningkatkan sikap belajar, kemampuan berpikir kritis serta kemampuan memecahkan masalah.
Banyak persoalan yang dialami siswa dalam pembelajaran di sekolah. Mulai dari motivasi belajar siswa, interaksi siswa dalam pembelajaran, serta belum banyaknya pembelajaran yang kontekstual yang dilakukan oleh sekolah.
Selain persoalan mengenai kurangnya pengalaman belajar yang dialami siswa, terjadi terjadi pula persoalan yang berhubungan dengan kurangnya pengetahuan siswa mengenai budaya yang ada di lingkungan siswa. Pengenalan budaya lokal sejak dini pada siswa sekolah dasar, sangat bermanfaat untuk menanamkan nilai cinta kearifan lokal di lingkungan kehidupan siswa. Sejalan dengan hal tersebut, Hidayati (2016:47) menerangkan bahwa memudarnya kearifan lokal dapat menyebabkan bergesernya perilaku dan budaya di kalangan masyarakat. Hal tersebut menjadi tolakan kita sebagai guru untuk selalu mengenalkan budaya kepada siswa. Kearifan lokal adalah kekayaan yang dimilik suatu daerah berupa pengetahuan, kepercayaan, norma, adat istiadat, kebudayaan, wawasan dan sebagainya yang merupakan suatu warisan dan dipertahankan sebagai suatu identitas dalam kehidupan (Utari, 2016:42). Nilai kearifan lokal di sekolah dapat ditanamkan melalu kegiatan belajar mengajar (Maryono, 2016).
Salah satu proses pembelajaran yang dibutuhkan siswa adalah pembelajaran yang memberikan pengalaman belajar yang bermakna serta dihubungkan dengan situasi konkret siswa. Sejalan dengan hal tersebut McFarlane (2013) dampak kebutuhan belajar dan metode belajar berbeda-beda, yang membuat siswa mampu memahami pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan sekitar. Salah satu proses pembelajaran yang sejalan dengan pernyataan diatas adalah model pembelajaran berbasis proyek atau Project Based Learning (PjBL). Model PjBL adalah model pembelajaran yang berpusat pada siswa dan memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa. Hasil dari pengerjaan proyek, siswa secara mandiri akan membangun pengetahuannya, meningkatkan kemampuan memecahkan masalah, mengembangkan keterampilan berpikir dan komunikasi.
Keleluasaan dalam memilih bahan ajar yang sesuai dengan karakteristik materi yang diajarkan juga dapat membantu siswa dalam menanamkan nilai-nilai kearifan lokal salah satu caranya adalah dengan memadukan nilai-nilai kearifan lokal yang ada di lingkungan siswa dengan muatan materi tanpa mengesampaingkan esensi dari bahan ajar itu sendiri.
Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti, penggunaan model proyek yang diintegrasikan dengan kearifan lokal terbukti efektif digunakan. Dilihat dari nilai pretes siswa yang meningkat dari rata-rata 69 menjadi 87. Sehingga nilai n gain yang didapat 0,58 dengan kategori sedang. Uji prasyarat juga dilakukan oleh peneliti dengan terlebih dahulu melakukan uji normalitas dan homogenitas. Uji t dilakukan untuk menguji perbedaan hasil belajar pada kelompok kontrol dan eksperimen. Nilai t hitung diperoleh 2,63 > dari t tabel 2,01537. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran PjBL berbasis kearifan lokal untuk kemampuan berpikir kritis siswa efektif dilakukan. (*)

