PATI – Kilasfakta.com, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pati mengharapkan petani garam menggunakan geoisolator atau plastik pelapis tambak garam supaya penguapannya lebih cepat.
Anggota Komisi B DPRD Kabupaten Pati, M Nur Sukarno menyatakan hasil garam yang menggunakan geoisolator lebih baik. Pasalnya, tidak tercampur dengan tanah. “Petani garam yang masih tradisional pakainya meja garam tanah. Sehingga hasil garam bisa jadi tercampur dengan tanah. Berbeda dengan geoisolator, meja garamnya dilapisi dengan plastik pelapis tambak. Maka otomatis tidak tercampur dengan tanah,” ungkap dia.
Selain tidak tercampur dengan tanah, munurut politisi Partai Golongan Karya (Golkar) garam yang pakai geoisolator akan mendapatkan kualitas warna, kristal, dan tingkat kekeringan lebih baik daripada yang tidak pakai geoisolator. “Itu sudah berbeda jauh kalau dilihat dari hasil garam,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Seksi (Kasi) Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Pati, Ari Wibowo menyampaikan bahwa petani garam di Kabupaten Pati sudah banyak yang menggunakan geoisolator. Lantaran, mereka sudah tahu menggunakan geoisolator bisa meningkatkan produksi garam serta kualitas garam juga tambah bagus.
“Sementara ini kita akan ada bantuan geoisolator. Akan tetapi, petani garam sudah tahu geoisolator bisa meningkatkan produksi garam serta kualitas garam juga tambah bagus. Sehingga mereka cari sendiri. Kalau dulu kita pertama sosialisasi, tidak begitu mau menggunakan geoisolator,” jelasnya.
Sebagai tambahan informasi, untuk luas lahan tambak garam di Kabupaten Pati mencapai 29.016.300 m². Sedangakn areal tambak garam di Kabupaten hanya ada di empat Kecamatan saja yakni di Kecamatan Batangan, Kecamatan Juwana, Kecamatan Wedarijaksa dan sedikit di Kecamatan Trangkil. “Tambak garam yang paling luas ya di Kecamatan Batangan,” tutupnya. (Wk/Kf)

