PATI – Kilasfakta.com, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pati, M Nur Sukarno mengatakan banjir yang melanda Bumi Mina Tani sepekan ini harus segera diselesaikan. Sebab, sudah mempengaruhi berbagai lini sektor, mulai dari sektor ekonomi hingga pendidikan. Maka, dirinya meminta pemerintah melakukan langkah konkret untuk mengatasinya.
Oleh karena itu, Sukarno menyarankan Pemerintah Kabupaten Pati untuk menggunakan pompa bergerak sebagai upaya mengatasi banjir. Hal ini dinilai penggunaan pompa bergerak atau pompanisasi adalah cara yang tepat. Metode ini sangat sederhana dan fleksibel karena bisa digeser ke lokasi lain yang memerlukan. Tetapi, metode ini jarang dilirik oleh Pemerintah setempat.
“Bencana banjir menimbulkan genangan, genangan ini relatif lama sehingga dibutuhkan juga pompa,tetapi untuk meminimalisir genangan dibutuhkan pemasangan pompa yang dekat dengan sungai dengan mempertimbangkan efisiensi dan efektifitas,” ujar politisi dari Partai Golkar ini.
Sebelumnya, menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pati volume banjir di Pati berangsur surut di sebagian wilayah. Saat ini tinggal sekitar 13 desa di 4 kecamatan yang masih terdampak banjir. Sebelumnya, banjir merendam sekitar 55 desa di 9 kecamatan di Pati. “Sekarang sudah banyak yang surut. Antara 12-13 desa yang masih ada genangan meski sudah tidak tinggi lagi. Dari awal 55 desa waktu di awal bencana, sekarang tinggal belasan,” kata Kepala Pelaksana BPBD Pati, Martinus Budi Prasetya.
Desa yang masih kebanjiran itu di antaranya Doropayung di Kecamatan Juwana. Menurutnya, ketinggian banjir di Doropayung sempat mencapai di atas 1 meter. Banjir juga masih melanda Desa Kasiyan, Kecamatan Sukolilo. “Di Jakenan itu Karangrowo, Ngastorejo. Selanjutnya di Gabus itu ada di Banjarsari dan Mintobasuki,” jelas dia.
Sebagai informasi, bencana banjir terparah terjadi di Desa Bumirejo, Kecamatan Juwana yang mendampak 401 rumah yang ditinggali sekitar 1.303 orang. (Adv)

