Kabupaten PekalonganKepala Desa Tengeng Kulon Rasijo Kecamatan Siwalan Kabupaten Pekalongan ketika memberi sambutan di acara Sedekah Bumi

PEKALONGAN – Kilasfakta.com, Legenonan atau Sedekah Bumi (Ruwat Bumi) merupakan sebuah tradisi dan budaya turun-temurun bagi warga masyarakat di Jawa Tengah yang hingga saat ini masih terus dilestarikan. Dalam rangka melestarikan tradisi, Desa Tengeng Kulon, Kecamatan Siwalan, Kabupaten Pekalongan menggelar acara Wayang Golek campur sari Setya Laras Gayeng yang dipimpin Ki Dalang Casmono Hadi dari Warungasem Kabupaten Batang di lapangan Desa Tengeng Kulon, pada Selasa (27/5/2025).

Dalam sambutannya Kepala desa Tengeng Kulon, Rasijo menyampaikan, Sejak sore hari warga berbondong-bondong membawa besek bambu berisi nasi beserta lauk-pauk, jajanan pasar, masing-masing dua sampai tiga besek, kemudian dikumpulkan oleh panitia di meja panjang sebelah panggung, yang nantinya akan dibagikan kembali kepada warga masyarakat yang hadir. Itulah wujud sedekah yang merata, berbagi tanpa memandang siapa yang memberi dan siapa yang menerima.

Oplus_131072

“Alhamdulillah, tradisi Sedekah Bumi yang sempat vakum selama 6 tahun, sekarang sudah kita laksanakan lagi yang terbaik dari sebelumnya. Pada intinya acara ini bisa mempersatukan warga dalam kerukunan dan kedamaian”, ungkap Rasijo.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Anwar (71) warga RT. 01 RW. 02 Desa Tengeng Kulon. “Ruwatan Sedekah Bumi kali ini merupakan momen yang terbaik, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang sempat vakum selama 6 tahun. Dengan kegiatan ini, kesadaran warga masyarakat untuk selalu menjujung tinggi kearifan lokal dan melestarikan tradisi turun-temurun peninggalan nenek moyang kita”, tuturnya.

Menjelang sore Kepala Desa Tengeng Kulon, didampingi tokoh masyarakat, menyambut satu per satu tamu undangan yang datang. Acara dimulai dengan prosesi arak-arakan gunungan hasil bumi. Warga mengarak tumpeng sayur mayur, padi, dan buah-buahan keliling kampung dengan iringan musik tradisional dan sholawat. Gunungan itu kemudian dipajang megah sebagai simbol rasa syukur kepada Sang Pencipta atas hasil bumi yang melimpah.

Lantunan Tahlil dan Doa bersama dipimpin tokoh Agama setempat, menandai rasa syukur kepada sang maha pencipta atas limpahan rejeki, agar Desa Tengeng Kulon senantiasa dijauhkan dari bencana, dan warganya hidup rukun bersatu dalam kedamaian. Namun suasanapun berubah, ketika ritual rebut gunungan dimulai, para orang tua, muda bahkan anak-anak langsung menyerbu hasil bumi yang disusun rapi, tetapi tetap dalam suasana tertib dan gembira. Mereka membawa pulang bingkisan hasil bumi dari gunungan merupakan keberkahan tersendiri.

Pertunjukan wayang golek campursari pun dimulai sekitar pukul 20.00 wib. Dengan gaya khas dan humor, Ki Dalang Caswono Hadi membawakan lakon “Wahyu Katentreman”, sebuah kisah klasik yang sarat pesan moral. Cerita ini menggambarkan perjalanan seorang ksatria dalam mencari ketenteraman sejati di tengah godaan duniawi dan pertikaian batin.

“Ketentraman bukan hanya soal keadaan luar, tapi tentang bagaimana hati kita bersikap. Sedekah, rukun, dan syukur, itulah kunci kedamaian,” ucap tokoh lakon dalam pewayangan, disambut antusias para pengunjung yang hadir.

Dengan ruwatan sedekah bumi ini, Tengeng Kulon kembali meneguhkan jati dirinya sebagai Desa yang menjunjung tinggi gotong royong, kearifan lokal, dan kepercayaan bahwa hidup bersama akan selalu lebih baik daripada sendiri-sendiri. (Kf)

Exit mobile version