Kota PekalonganFoto Kepala Kelurahan Bandengan Basuki S.H. menjabat Tahun 2025 Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan

PEKALONGAN – Kilasfakta.com, Mengulas Sejarah Kelurahan Bandengan, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan Menurut Keterangan dari Kapala Kelurahan Bandengan, yang pada saat ini dijabat oleh saudara Basuki S.H. Tahun 2025. Sebelumnya, Basuki Pernah menjabat sebagai Pamong, kala itu Bandengan masih menjadi bagian dari Kabupaten Pekalongan.

Basuki SH Menerangkan bahwa, “sebenarnya secara etimologis, nama Bandengan berasal dari gabungan dua kata dalam bahasa Jawa “bandeng”, yang berarti ikan bandeng (Chanos chanos), jenis ikan air payau; dan “-an,” yang bermakna daerah atau tempat”, Terangnya.

Dengan demikian, Bandengan secara harfiah berarti daerah penghasil ikan bandeng yang melimpah.

Kelurahan Bandengan ini merujuk pada suatu wilayah yang berdekatan di antara Kandang Panjang dan Desa Jeruksari Kabupaten Pekalongan. Bandengan merupakan wilayah yang dikenal dengan perairan payau dengan kekayaan ikan bandeng dan Perkebunan Bunga Melati dan Pertanian Padi pada waktu masanya.

Basuki menceritakan, Sejarah Nama kelurahan Bandengan berawal, bahwa sebelum dikenal Sebagai Desa/Kelurahan  Bandengan Pekalongan, dulu pada masa kolonial Belanda hingga awal kemerdekaan, Desa/Kelurahan Bandengan Pekalongan ini diberi nama Desa Lambangsari, sebuah nama Desa memiliki beberapa makna yaitu, “lambang adalah inti”, “keindahan”, dan “kesempurnaan”, dan kemudian berganti nama Bandengan, Desa Penghasil Ikan bandeng.

Awalnya, kelurahan Bandengan kecamatan Pekalongan Utara adalah sebuah Desa yang menjadi bagian zona/teritorial wilayah administratif Kabupaten Pekalongan. Namun, berjalannya waktu status tersebut sekarang berubah menjadi bagian dari Kota Pekalongan pada tahun 1988.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1988 tentang Perubahan Batas Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Pekalongan, Daerah Tingkat II Kabupaten Pekalongan, dan Daerah Tingkat II Kabupaten Batang. Tetapi, implementasi penuh peraturan, ini baru terealisasi pada tahun 1999, pada masa kepemimpinan Kepala Desa Drs. Karibkin Syarif, karena memerlukan proses sosialisasi dan penyesuaian administratif serta sosial masyarakat.

Lebih lanjut Basuki menjabarkan beberapa tokoh yang Pernah menjabat Sebagai Kepala Desa hingga Kepala kelurahan. Berikut adalah daftar masa kepemimpinan di Kelurahan Bandengan, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan:

1. (1949–1952) :   H Amin

2.(1952–1988): Mochamad Alwi

3. (1988–1998:) Drs. Karibkin Syarif

4.(1998–1999): Heri Purnomo

5. (1999–2006) : Drs. Karibkin Syarif

6.(2006–2008): Marijo

7. (2008–2011): Lilik Murdiyanto, S.H.

8.(2011–2015): Sunardi

9. (2015–2019): Maryoto

10 (1 Januari 2024) Mohammad Zaenal Abidin (pensiun), yang kemudian dilanjutkan oleh

11. Farikhi dan Rusman Aji pada tahun 2024.

12. 2025: Dilanjutkan oleh Basuki, S.H.

 

*Tipologi Kelurahan Bandengan kecamatan Utara kota Pekalongan*

Bandengan adalah wilayah pesisir yang terletak di sebelah utara Pulau Jawa. Daerah ini berada pada ketinggian 1 mdpl dengan koordinat 6°52’20.9″S 109°39’47.3″E. Dahulu, sebagian besar wilayah Kelurahan Bandengan merupakan lahan pertanian, perkebunan, dan perikanan tambak. Karakteristik geografis sebagai daerah pesisir menjadikan lahannya subur dan potensial untuk kegiatan tersebut.

Kelurahan Bandengan melintasi dua wilayah, yaitu Sungai Betingan dan Sungai Segrabyag, membentang dari barat ke timur yang berfungsi sebagai irigasi untuk lahan pertanian dan perikanan. Dulu kondisi alam yang makmur ini menjadikan Bandengan sebagai daerah tujuan pemukiman penduduk.

Kemudian, sejak tahun 2012 Kelurahan Bandengan mulai dilanda banjir rob yang mengubah secara drastis struktur lahan serta kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.

Lahan pertanian, perikanan tambak, dan perkebunan melati yang dulunya menjadi sumber penghidupan utama masyarakat pada masa kejayaannya (tahun 1960-an hingga 1990-an), kini menjadi lahan yang tidak produktif, karena terendam air rob dengan ketinggian antara 2 hingga 3 meter. Dampak banjir rob juga melanda permukiman penduduk, dengan ketinggian air mencapai 1 hingga 2 meter. (Lh/Kf)

Exit mobile version