Ema Kusumaningayu MustariEma Kusumaningayu Mustari

Pemilu 2024, tak terasa sudah didepan kita. Pemerintah sudah mulai mempersiapkan semua perangkat demi lancar terlaksananya Pemilu tersebut. Partai poloitik juga sudah menyiapkan strategi dan amonisinya untuk berperan aktif dalam pesta demokrati tersebut. Para tokoh politik sudah merapat dan mencari formula terbaik untuk menyiapkan kepemimpinan 5 tahun yang akan datang. Dan masyarakat sudah mulai melirik kekakan-kekiri mencari informasi sosok pimpinan ideal menurut pribadinya masing-masing.

Dalam pemilu, jika boleh dianalogikan ada tiga pilar pokok yang menjadi komponen utama yaitu pemerintah yang bisa dianalogikan penyelenggara pasar, partai politik yang dianalogikan sebagai penawar produk lengkap pedagang atau marketingnya, serta masyarakat sebagai pembelinya. Pemerintah terus memastikan bahwa pemilu 2024 akan berjalan sesuai rencana. Berbagai fasilitas, komponen, dan infrastruktur pemilu terus dipersiapkan sehingga diharapkan konstelasi berjalan fair Jujur, Adil dan menghasilkan para pemimpin terbaik.

Para pemilik produk dengan system marketing sudah Bersiap-siap mempromosikan dagangan yang akan mereka jual. Mereka persiapkan produk-produk unggulan berupa program kerja yang sistematis maupun sekedar jualan barang lama namun dikemas ulang dengan kemasan yang lebih apik. Tidak seperti pasar lama yang semua tradisional, kali ini pastilah akan semakin seru karena pasar sudah merambah ke pasar online sehingga mereka bisa dengan puas meng-upload informasi apapun dalam berbagai bentuk yang menarik. Pemasaran melalui media sosial menjadi strategi utama mengingat jumlah pemilih dari gen X dan Gen Z sangat besar bahkan mayoritas.

Menurut Koordinator Divisi Sosialisasi dan Partisipasi Masyarakat KPU RI August Mellaz, penduduk usia 15 tahun yang mungkin nanti merupakan pemilih pemula pada Pemilu 2024 mendatang, sampai usia 39-40 tahun, itu proporsinya sekitar 53-55 persen, atau 107-108 juta dari total jumlah pemilih di Indonesia. Proporsi ini menarik karena rentang usia tersebut gen Y dan Gen Z merupakan usia melek Tekhnologi informatika dan medsos. Kehidupan mereka tidak terlepas dari medsos. Bahkan mayoritas informasi dan komunikasi mereka adalah dengan medsos. Sehingga pasar Pemilu 2024 diprediksi akan semakin semarak dengan pemanfaatan media digital.

Bisingnya media digital dengan berbagai pernak-pernik marketingnya pasti akan terjadi. Ada yang melakukan marketing yang bagus yang membangun iklim demokrasi sejuk dan berkemajuan dengan menampilkan keunggulan program, visi-misi, maupun solusi dalam mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat. Tetapi, tetap saja akan nada yang memasarkan produk dengan mencari kekurangan dan kelemahan dari kubu lain. Bahkan akan selalu ada yang menyebarkan informasi palsu (hoaks) yang kadang bisa memunculkan kerenggangan dalam kehidupan berbangsa. Generasi muda sebagai pemilih pemula yg masih independent dalam pikiran bawah sadar, harus bisa selektif dalam menentukan pilihan. Suara mereka berpengaruh terhadap masa depan kepemimpinan bangsa.

Pemerintah diharapkan bisa memberikan pembelajaran demokrasi kepada generasi ini. Pendidikan berdemokrasi ini bisa dilakukan dengan pembudayaan literasi, berfikir netral, objektif, dan budaya berfikir bijaksana. Selain itu, fungsi control dan pengawasan dalam pemilu juga harus bergfungsi dengan baik. Fungsi yang dimaksud bukan hanya fungsi pemberian sangsi tetapi juga fungsi antisipatif. Disinilah peran Bawaslu perlu dikuatkan lagi.

Mengingat peran Wanita dengan prosentase jumlah diatas 51% sebagai pendidik pertama dan utama dalam lingkup keluarga. Jumlah Wanita yang begitu banyak juga harus mendapat perhatian dalam pendekatan pembelajaran pemilu yang baik. Selain itu, Wanita juga sangat dekat dengan generasi pemilih pemula. Sehingga secara sosiologis maupun psikologis, peran Wanita menjadi sangat penting untuk diprioritaskan. Pengawasan terhadap komunikasi politik inipun harus dilihat dari cara berfikir dan bertindak sesuai dengan karakter kewanitaan.

Dari sini, peran pengawasan antisipatif terhadap kaum Wanita dan kaum pemilih pemula dari kegaduhan politik menjadi sangat relevan dilakukan oleh kaum Wanita juga. Untuk itulah, komposisi Bawaslu mewadahi peran Wanita walaupun masih sebatas 30% jauh dari komposisi jumlah Wanita dan pemilih pemulanya. Tetapi dengan jumlah tersebut, semoga Pemilu akan berjalan lancar dan sukses tanpa ada kegaduhan yang berarti. (*)

*Penulis:
Ema Kusumaningayu Mustari, S.Pd.
Ketua Komite TK Pembina Jebres Surakarta
Ketua Darmawanita SMA Kabupaten Sukoharjo
Bendahara KLA LPMK Kel. Mojosongo

Tinggalkan Balasan

Exit mobile version