PATI – Kilasfakta.com, Pemilihan Antar Waktu Kepala Desa Pakis Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati berbuntut panjang. Biyanto, Kades Antar Waktu terpilih dilaporkan ke Polres Pati atas dugaan pemalsuan ijazah, oleh rivalnya, Widodo Haryadi. Dan kini giliran Sekretaris Desa Pakis yang juga diadukan oleh Widodo Haryadi atas dugaan pemerasan dan menyalahgunakan wewenang.

Nita Maria, Sekdes Pakis, memenuhi panggilan dari penyidik Polres Pati berdasarkan surat panggilan polisi bernomor B/673/III/2022/Reskrim yang dilayangkan kepadanya atas tuduhan tindak pidana pemerasan dan penyalahgunaan wewenang. Nita Maria merupakan bendahara dalam kepanitiaan Pemilihan Antar Waktu (PAW) Kepala Desa Pakis yang diselenggarakan beberapa waktu lalu.

Ditemui di kantornya, Nita mengaku telah memenuhi panggilan penyidik Polres Pati pada Senin lalu. “Saya sampaikan kepada penyidik tentang persoalan yang sebenarnya pada waktu saya menjadi bendahara dalam kepanitiaan Pemilihan Antar Waktu Kepala Desa Pakis,” terangnya, kepada Kilasfakta.com.

Nita menerangkan, bahwa uang Rp 10 juta yang diserahkan para calon tersebut adalah untuk menunjang pelaksanaan Pilkades, dan merupakan kesepakatan yang telah disetujui saat dilakukan pertemuan atau rapat di kantor Kecamatan Tayu. “Itu sudah menjadi kesepakatan bersama, dan yang mengusulkan nominal sepuluh juta setiap calon, adalah Pak Widodo,” imbuhnya.

Hal itu dibenarkan oleh Biyanto, Kepala Desa Pakis Antar Waktu. Biyanto menjelaskan, bahwa dalam Pemilihan Antar Waktu (PAW) Kepala Desa Pakis, masing-masing calon sepakat membantu Rp 10 juta, hingga terkumpul dana Rp 30 juta. Sedangkan kekurangan Rp 30 juta akan ditanggung atau dibebankan oleh kepala desa PAW terpilih.

Sigit Heryanto, Kasie Pemerintahan Desa Pakis yang dulu menjabat sebagai Wakil Ketua dalam kepanitiaan membenarkan hal tersebut. “Saat itu dilakukan pembahasan terkait dengan anggaran untuk menyelenggarakan Pilkades PAW. Dan seteah ditawarkan, ya beliau sendiri (Widodo Haryadi) yang mengatakan, kalau sepuluh juta, bersedia. Atas dasar itu, calon yang lain juga menyetujuinya, termasuk yang ikut hadir di sana,” ujarnya.

Di tempat terpisah, Ketua BPD Desa Pakis, M. Imam Baidhowi memberikan keterangan, bahwa terkait dengan anggaran Pilkades PAW memang tidak ditanggung sepenuhnya oleh APBDes, sehingga mengalami kekurangan. Terkait dengan kekurangan itu, lanjut Imam, kemudian dibahas oleh panitia, panitia kecamatan, para calon, dan BPD yang dijembatani oleh Camat Tayu di kantor kecamatan. “Dari Mas Widodo sendiri mengusulkan 10 juta rupiah. Dan akhirnya, semua (tiga calon) sepakat sepuluh juta,” ujar Imam Baidhowi.

Setelah itu, lanjut dia, kekurangannya, bagaimana, karena masih kurang 30 juta rupiah. Dan dalam pembahasan itu disepakati, bahwa kekurangan 30 juta rupiah ditanggung oleh calon yang jadi. “Itu yang mengusulkan adalah Mas Widodo sendiri,” tegasnya.

Camat Tayu, Dwi Nuryanto, SH saat ditemui Kilasfakta.com usai mengikuti Uji Publik Pengisian Perangkat Desa Tayu Kulon menjelaskan, pada saat itu terkait anggaran Pilkades PAW Desa Pakis terjadi deadlock. Kemudian, pihak kecamatan membantu menjembatani dengan menghadirkan para calon, panitia dan ada juga BPD Pakis. “Bahkan yang membuat statemen siap memberikan sumbangan 10 juta rupiah, ya Widodo sendiri. Dalam hal ini, kami hanya memfasilitasi terkait dengan hal tersebut. Tindak lanjutnya bagaimana, itu menjadi kewenangan panitia,” beber camat.

Sementara itu, Ketua Panitia Pilkades Antar Waktu, Karyono, S.Pd saat ditemui di kantornya, yaitu SD Negeri Tanjungrejo, Kecamatan Margoyoso menambahkan, bahwa persoalan tersebut tidak bisa disebut sebagai tindakan pemerasan. Dalam kepanitiaan, lanjut Karyono, ada hal-hal lain yang di luar kemampuan panitia, yaitu terkait dengan anggaran Pilkades sebesar Rp 90 juta. “Akhirnya, Pak Camat menjembatani. Panitia kecamatan, semua bakal calon, panitia harian, BPD, Pj kepala desa diajak rapat di ruangan Pak Camat. Rapat dipimpin Pak Camat,” tutur Karyono.

Saat itu, lanjut Karyono, camat bertanya terkait dengan sosuli kekurangan anggaran tersebut. Kemudian, Widodo Haryadi menyatakan sanggup nyumbang Rp 10 juta, hingga disetujui oleh calon yang lain. “Setelah Pak Camat bertanya kepada Pak Widodo, berani nyumbang berapa, dan Pak Widodo menjawab, kalau dirinya berani menyumbang 10 juta, maka ketiga calon sepakat menyumbang masing-masing sepuluh juta rupiah,” imbuh Karyanto sesekali menirukan ucapan camat.

Setelah itu, kemudian disepakati, bahwa dari calon ada anggaran Rp 30 juta, dari Pemdes juga Rp 30 juta, maka yang Rp 30 juta ditanggung oleh calon yang jadi. Sehingga, Pilkades PAW dapat terlaksana, dan dimenangkan oleh Biyanto.

Pewarta: Purwoko

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *