SRAGEN – Kilasfakta.com, Pengentasan desa zona merah kemiskinan di Kabupaten Sragen mulai difokuskan per desa setahap demi setahap. Dari 51 desa, pengentasan dilakukan secara bertahap satu persatu. Penerapan pengentasan kemiskinan sendiri merambah perdesa yang menjadi pilot project.

Program Desa Tuntas Kemiskinan (Tumis) yang digencarkan oleh Pemerintah Kabupaten Sragen merupakan upaya dalam rangka penanganan kemiskinan yang menggali kebutuhan dan potensi masyarakat ditingkat Desa yang dilakukan secara bergotong royong.

Inovasi yang diinisiasi oleh Pemkab Sragen ini dimulai dari tahun 2022 lalu dibawah teknis Dinas Sosial Kabupaten Sragen dan dikhususkan untuk pengentasan kemiskinan secara tepat sasaran, tepat waktu dengan fokus ke Desa yaitu Desa Tuntas Kemiskinan.

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Sragen Finuril Hidayati membenarkan, program dimulai dari tahun 2022 yakni pada dua desa yang diupayakan mendapat anggaran perubahan melalui tuntas kemiskinan (tumis) hingga yang diusulkan pada APBD 2023 kemarin.

Dia menambahkan, ada dua desa yang diawali yakni mulai dari Desa Kadipiro, Kecamatan Sambirejo dan Desa Cemeng, Kecamatan Sambungmacan. Lantas tiga desa yang difokuskan pada 2023 yakni Desa Ngargotirto, Kecamatan Sumberlawang; Desa Bonagung, Kecamatan Tanon; dan Desa Karangmalang, Kecamatan Masaran hingga usai awal tahun 2024 ini.

“Upaya ini memang tidak mungkin menjadikan kemiskinan di Sragen 0 persen. Karena masih ada warga yang miskin absolut. Tapi langkah ini bagian dari solusi sesuai treatment yang dibutuhkan. Misalnya butuh modal, dibantu dengan Usaha Ekonomi Produktif (UEP) agar lepas dari kemiskinan. Harapannya tinggal kemiskinan absolut, meski semua butuh proses,” ujarnya.

Pihaknya menjelaskan akan dilakukan monitoring dan evaluasi (Monev) melihat progres desa yang dibantu.

Terpisah, Kepala Dinas Perumahan, Pemukiman, Pertanahan dan Tata Ruang (Disperkimtaru) Kabupaten Sragen Aris Wahyudi menyampaikan, pihaknya juga dilibatkan dalam program Tumis. Terutama untuk pembangunan rumah tidak layak huni (RTLH).

”Anggarannya macam-macam, dari baznas, APBD, CSR BUMD juga ada, jadi dikeroyok bersama di satu desa miskin,” jelasnya.

Namun keberhasilannya tergantung pada masyarakat. Mau atau tidak untuk mentas dari kemiskinan. Misalnya bantuan usaha, jika dilihat nilainya hanya Rp 2 juta. Tetapi bagi yang punya niat berusaha, nilai tersebut sudah cukup besar.

Sedangkan untuk bantuan RTLH di Sragen nilai per rumah bervariatif. Hampir 2000 rumah untuk 20 Kecamatan dengan total anggaran sekitar Rp 4 miliar.

”Angka maksimal Rp 15 juta per rumah. Apalagi Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) dari pemerintah pusat, sifatnya hanya stimulan,” terangnya.

Lanjutnya, untuk wisuda tahap pertama tahun 2022 dilaksanakan di Desa Jabung Kecamatan Plupuh, kedua di Desa Cemeng Kecamatan Sambungmacan dan ketiga Desa Kadipiro Kecamatan Sambirejo. Selanjutnya wisuda tahap kedua Tahun Anggaran 2023 dilaksanakan di Desa Tlogo Tirto Kecamatan Sumberlawang, kedua Desa Bonagung Kecamatan Tanon, dan ketiga Desa Bukuran Kecamatan Kalijambe.

Disebutkannya penanganan kemiskinan dan pengurangan pengangguran menjadi salah satu Visi Misi Pemkab Sragen tahun 2021-2026 pada periode kedua ini dengan tujuan untuk mengurangi beban pengeluaran masyarakat, menambah pendapatan masyarakat dan mengurangi kantong-kantong kemiskinan melalui program Desa Tuntas Kemiskinan.

“Pemilihan Desa Tlogo Tirto sebagai lokasi Desa Tumis karena menjadi 45 Desa prioritas penanganan kemiskinan di Jawa Tengah dan Kabupaten Sragen. Pelaksanaan Desa Tumis di Tlogo Tirto dimulai pada pertengahan tahun 2023 sampai akhir Desember 2023. Alhamdullilah hari ini dilaksanakan wisuda yang ditandai dengan penyerahan SK dan piagam kepada Kepala Desa Tlogo Tirto.”terangnya.

Disisi lain, terkait Pelaksanaan Desa Tuntas Kemiskinan tersebut juga melalui beberapa tahapan yaitu pemilihan lokasi, pemilihan data, skrining data, assessment awal, assestment lanjutan dan pemberian terapi. Melalui data awal DTKS dan P3KE Desil I Non DTKS sebanyak 964 KK dilakukan assessment awal dan assestmen lanjutan sampai akhirnya terpilih 702 KK yang diberikan terapi/bantuan.

“Ada yang dapat bantuan RTLH dan Jamban Rp 15.000.000,- Bantuan Pendidikan dari GNOTA untuk 43 orang selama satu tahun SD Rp 400.000, SMP Rp 500.000,- dan SMA Rp 600.000,- bantuan Jaminan Hidup (Jadup) untuk 28 orang Rp 600.000,- selama 3 bulan, dan pelatihan untuk 70 orang maupun kegiatan usaha ekonomi (permodalan usaha) 31 orang.”ungkapnya.

Seluruh total anggaran yang dilakukan dalam program kegiatan Tumis tahap kedua untuk tiga Desa Tumis (Desa Tlogo Tirto, Desa Bonagung dan Desa Bukuran) sebesar Rp 10. 559 miliar dan treatment paling besar diberikan untuk Desa Tlogo Tirto yaitu Rp 4 miliar (37,91%).

Terpisah, Bupati Sragen dr. Kusdinar Untung Yuni Sukowati sendiri mengaku juga bersyukur atas selesainya program tuntas kemiskinan di Desa Tlogo Tirto. Pemberian bantuan merupakan bentuk nyata kinerja Pemerintah Kabupaten Sragen untuk mengentaskan kemiskinan.

Yuni meminta bantuan terapi yang telah diberikan agar dimanfaatkan serta bantuan Usaha Ekonomi Produktif (UEP) dapat dikelola dengan baik untuk kesejahteraan keluarga dan masyarakat bisa lebih mandiri.

“Penerima bantuan RTLH di Desa Tlogo Tirto sebanyak 228 unit dengan anggaran gotong royong (Baznas, Bank Jateng dan APBD) sebesar Rp 3.420.000,- Ada pula yang menerima bantuan pendidikan dan Jadup yaitu tunjangan yang diberikan kepada masyarakat yang sudah tidak bekerja. Kemudian bantuan kambing untuk 21 KK dan bantuan pelatihan otomotif. ”tandasnya.

Bupati meminta bantuan terapi yang telah diberikan agar dimanfaatkan serta bantuan Usaha Ekonomi Produktif (UEP) dapat dikelola dengan baik untuk kesejahteraan keluarga dan masyarakat bisa lebih mandiri. (Awi/Hendro)

Tinggalkan Balasan

Exit mobile version