
Nur Safa’atun, S.Pd.SD
Guru Kelas V SD Negeri Banjarsari 02 Kec. Gabus Kab. Pati
Mengembalikan Konsentrasi Anak dengan Ice Breaking
Kegiatan pembelajaran dapat berlangsung dengan baik apabila minat dan motivasi belajar di titik tertinggi. Namun kenyataannya tidak demikian, ada kalanya minat belajar mereka menurun. Apalagi jika dihadapkan dengan materi pelajaran yang tidak mereka sukai. Salah-satunya adalah pembelajaran IPA. IPA menjadi pembelajaran yang kurang diminati oleh peserta didik, karena pembelajaran IPA bersifat abstrak sedangkan peserta didik SD mempunyai pemikiran yang kongkrit ditambah dengan penggunaan bahasa ilmiah yang asing membuat minat peserta didik menjadi menurun.
Ada beberapa hal yang mempengaruhi proses pembelajaran di kelas. Salah satunya adalah minat dari perserta didik. Menurut Hurlock (2005), minat merupakan sumber motivasi yang mendorong seseorang untuk melakukan apa yang mereka inginkan. Bila ada sesuatu yang menurut mereka memberi kepuasan, mereka akan merasa berminat. Namun, jika kepuasan berkurang, minat pun akan berkurang. Hal ini menjelaskan tingkah laku individu terhadap sesuatu sangat dipengaruhi oleh besar kecilnya minat yang ada dalam individu tersebut.
Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah taman yang menyenangkan serta belajar dengan proses kegembiraan. Pembelajaran dengan suasana kelas yang menyenangkan bukan menegangkan, guru menuntun siswa diberi kebebasan untuk pengetahuan, dibimbing tanpa paksaan, guru harus jadi penuntun dengan penuh kesabaran dengan mengutamakan pembelajaran yang tetap berpihak pada anak. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kepuasan peserta didik sehingga minat belajar juga ikut meningkat.
Ice Breaking menjadi pilihan dalam meningkatkan minat belajar anak di SD Negeri Banjarsari 02 Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati. Ice Breaking adalah kegiatan game atau permainan yang digunakan untuk mengembalikan konsentrasi peserta didik sehingga mereka kembali bersemangat dalam mengikuti pembelajaran. Ice breaking dapat dilakukan di awal, tengah atau akhir pembelajaran dengan tujuan agar peserta didik kembali fokus atau menambah motivasi peserta didik.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan guru jika ingin menyisipkan ke dalam aktivitas pembelajaran. Pertama adalah waktu ice breaking. Guru harus dapat melihat kapan saat yang tepat untuk memberikan ice breaking. Apakah peserta didik sudah menunjukan adanya kebosanan sehingga perlu disegarkan kembali agar peserta didik fokus pada pembelajaran. Guru harus peka dengan situasi pembelajaran yang berlangsung.
Kedua adalah durasi ice breaking juga perlu diperhatikan agar efektif dan efisien. Jangan sampai adanya ice breaking malah membuat siswa menjadi bosan dan kurang konsentrasi. Ketiga adalah materi ice breaking yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Pemilihan media dalam menyampaikan Ice Breaking perlu dipersiapkan agar tujuan ice breaking bisa tercapai. Keempat adalah lakukan review. Review sangat penting untuk mengetahui apakah tujuan ice breaking sudah tercapai atau belum.
Kemajuan teknologi dan informasi mempermudah guru dalam menemukan ide-ide ice breaking yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Variasi ice breaking dalam setiap pembelajaran membuat siswa penasaran dan termotivasi mengikuti pembelajaran. Hal ini akan memunculkan pertanyaan dalam diri siswa “hari ini ada apa lagi ya?”.
Peningkatan motivasi peserta didik dalam pembelajaran di kelas V SD Negeri Banjarsari 02, Kecamatan Gabus Kabupaten Pati terlihat setelah penggunaan ice breaking. Hal ini terlihat dari peserta didik menjadi lebih aktif dan senang dalam pembelajaran. Hasil angket tentang motivasi belajar siswa juga mengalami peningkatan.
Ice Breaking yang semula bertujuan untuk mengembalikan konsentrasi dan motivasi belajar siswa ternyata memiliki manfaat lain. Manfaat itu antara lain: (1) dapat meningkatkan partisipasi dan komunikasi antar peserta didik; (2) menciptakan suasana belajar yang aktif, akrab dan menyenangkan; (3) mencegah rasa bosan antar peserta didik dan tenaga pendidik.
