Joko Pratiknyo, S.Pd.
SD Negeri Tambahagung 02 Kecamatan Tambakromo Kabupaten Pati

Pembelajaran Bermakna Tingkatkan Pemahaman Siswa

 

Belajar merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh individu untuk mendapatkan perubahan tingkah laku, baik dalam ranah kognitif, ranah psikomotorik, maupun ranah afektif. Selain itu, belajar juga dapat dimaknai sebagai aktivitas yang dilakukan oleh setiap individu sehingga terjadi perubahan tingkah laku antara sebelum dan sesudah belajar. Perubahan tingkah laku ini, dapat terjadi karena individu tersebut mengamali proses belajar yang bermakna.

Proses belajar yang bermakna adalah kegiatan belajar dengan konsep dan informasi yang disajikan secara utuh dan menyenangkan sehingga dapat meningkatkan kemampuan peserta didik. Proses belajar yang bermakna dapat terjadi jika guru dapat melakukan evaluasi dan refleksi dengan baik. David Paul Ausubel dalam Sulistianto (2014) menyatakan bahwa belajar dapat diklasifikasikan ke dalam dua dimensi. Dimensi yang pertama berhubungan dengan cara pemerolehan informasi atau materi oleh siswa. Misalnya melalui penerimaan langsung atau melalui proses penemuan. Sedangkan dimensi kedua menyangkut cara siswa dalam mengaitkan informasi yang diperoleh dengan pengetahuan awal siswa. Pengetahuan awal siswa tersebut dapat berupa fakta, konsep, dan generalisasi.

Pada tingkat pertama dalam belajar, siswa memperoleh informasi dalam bentuk belajar penerimaan yang menyajikan informasi tersebut secara langsung atau dalam bentuk belajar penemuan yang mengharuskan siswa menemukan sendiri materi yang akan diajarkan. Sedangkan pada tingkat kedua, siswa mengaitkan informasi atau materi pada pengetahuan yang sudah dimilikinya. Proses yang demikian ini akan terjadi belajar bermakna. Namun, jika siswa hanya dapat menghafal informasi atau materi baru itu tanpa menghubungkan dengan pengetahuan yang sudah ada, maka proses tersebut terjadi belajar hafalan.

Menurut Ausubel dan Novak (Burhanuddin, 1996 : 115) terdapat tiga kelebihan  belajar bermakna. Pertama, materi atau informasi yang dipelajari secara bermakna akan diingat lebih lama. Kedua, materi atau informasi baru yang dikaitkan dengan konsep-konsep relevan sebelumnya dapat meningkatkan konsep yang telah dikuasai sebelumnya sehingga memudahkan proses belajar mengajar berikutnya. Dan ketiga, materi atau informasi yang lupa, namun pernah dikuasai sebelumnya masih membekas sehingga memudahkan proses belajar mengajar untuk materi pelajaran yang mirip.

Proses belajar bermakna inilah yang diterapkan oleh penulis selaku guru kelas 3 SDN Tambahagung 02 Kecamatan Tambakromo Kabupaten Pati. Pada tema 6 Energi dan perubahannya, guru mengajak siswa untuk melakukan percobaan membuat kincir angin agar siswa dapat mempunyai pengalaman secara langsung terkait perubahan energi. 

Adapun langkah pembelajaran yang guru lakukan adalah sebagai berikut. Pertama guru mengaitkan pengetahuan awal siswa terkait perubahan energi. Misalnya permainan layang-layang. Pada permainan layang-layang terjadi perubahan energi angin menjadi energi gerak. Kedua, guru menyampaikan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan pada hari tersebut. Ketiga, guru menyampaikan tujuan pembelajaran. Keempat, guru membagi kelompok secara heterogen. Kelima, guru menjelaskan alat dan bahan yang akan digunakan dalam pembuatan kincir angin. Sebelumnya guru sudah menyampaikan alat dan bahan yang harus dibawa ke sekolah.  Keenam, guru meminta siswa untuk mengamati kincir angin yang sudah jadi ketika terkena angin. Ketujuh, guru meminta siswa untuk menuliskan sumber energi dan perubahan energi yang terjadi. Kedelapan, siswa diminta untuk menyampaikan hasil pengamatannya. Guru memberikan kesempatan pada kelompok lain untuk menanggapi. Dan terakhir, guru memberikan penguatan kepada semua siswa terkait pembelajaran yang sudah dilakukan.

Tinggalkan Balasan