
Oleh: Rahmawati Suwarman Putri, S.Pd.
Guru SDN Kembang 01, Kecamatan Dukuhseti,
Kabupaten Pati, Jawa Tengah
Pandemi Covid-19 yang terjadi kurang lebih 2 tahun di Indonesia ini menyebabkan terganggunya segala aktivitas sehari-hari disegala bidang kehidupan dan salah satunya yang berdampak signifikan tentu bidang pendidikan. Sekolah sebagai sumber utama murid belajar untuk mencari ilmu, harus mengupgrade semua sector agar mampu melaksanakan pembelajaran dengan lancar. Berdasarkan surat edaran No.4 Tahun 2020 melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan tentang belajar dari rumah (BDR) selama pandemic Covid-19 salah satunya dengan BDR melalui pembelajaran Daring/PJJ dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, 2020:1). Hal ini berdampak pada proses pembelajaran kurang maksimal, karena aturan tentang belajar dari rumah. Pembelajaran dari rumah ini dilaksanakan dalam dua bentuk, yaitu dalam jaringan (Daring), dan luar jaringan (Luring).
Pembelajaran Daring, merupakan sebuah terobosan yang menarik dan inovatif dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Namun, keterbatasan sarana dan prasarana menjadi sebuag hambatan yang sangat berpengaruh dalam pembelajaran. Apalagi di sekolah saya yakni Kelas VI SDN Kembang 01 Kecamatan Dukuhseti Kabupaten Pati yang notabene memiliki jangkauan jaringan seluler yang lemah. Hal ini membuat guru harus memikirkan strategi pembelajaran yang efektif agar kegiatan pembelajaran tetap berjalan sekaligus murid mampu memahami materi pembelajaran dengan baik.
Selama pembelajaran daring, murid cenderung merasa kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran secara daring. Mereka merasa bosan dan kesulitan memahami materi pembelajaran. Murid kelas VI SDN Kembang 01 yang terdiri dari 8 putra dan 10 putri ini seringkali memberikan keluhan terkait pembelajaran daring yang terasa monoton dan cenderung membosankan.
Salah satu alternatif kegiatan pembelajaran yaitu secara luring dengan menerapkan metode Guling Bemo Asyik (Guru Keliling, Pembelajaran Menarik, Optimal dan Asyik). Murid dikelompokkan dalam beberapa kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 orang. Dari beberapa kelompok tersebut guru akan merancang jadwal secara terprogram dan berkelanjutan. Guru mengunjungi kelompok sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan bersama. Dan guru melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan pemadatan materi yang dikemas dengan menarik.
Dengan kegiatan Guling Bemo Asyik (Guru Keliling, Pembelajaran Menarik, Optimal dan Asyik), diharapkan memberikan nuansa yang menyenangkan bagi murid. Belajar menyenangkan memberi ruang bagi murid untuk merdeka dalam belajarnya dan mampu mengekspresikan segala kreatifitasnya. Salah satu Profil Pelajar Pancasila yang diharapkan adalah menjadi pelajar yang kreatif. Dengan Guling ini, setidaknya kegiatan pembelajaran bisa berlangsung dan kegiatan belajar murid masih terkontrol, meskipun tidak setiap hari murid bertemu langsung dengan guru. Kegiatan diawali dengan berdoa dan menyanyikan lagu Nasional kemudian guru melakukan presensi. Setelah itu guru membuat kesepakatan dengan murid tentang kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan. Dilanjutkan dengan pelaksanaan KBM RPP yang telah dibuat oleh guru. Di akhir pembelajaran, guru memberikan refleksi dan tindak lanjut. Apabila kegiatan Guling Bemo Asyik terlaksana dengan baik, maka Learning Loss yang merupakan kekhawatiran para guru dalam masa pandemic ini tidak akan terjadi. Murid senang, guru juga melakukan tugasnya dengan baik. Sebuah sinergi yang baik dalam proses pembelajaran. Pada akhirnya selain keaktifan siswa selama pembelajaran meningkat, hasil belajar siswa juga akan meningkat. (*)
Artikel ini juga diterbikan di Media Kilas FAKTA Edisi 197
