
SRAGEN – Kilasfakta.com – Kearifan lokal Bumi Sukowati mewarnai hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat Sragen, tak terkecuali tradisi dalam dunia pertanian. Seperti halnya tasyakuran methil (panen) perdana dalam rangka masa tanam ke-3 oleh Kelompok Tani Ngudi Luhur.
Kegiatan yang dilaksanakan di Hamparan Mbah Ageng, Desa Plumbungan, Kecamatan Karangmalang pada Kamis (25/9/2025) tersebut dihadiri oleh Bupati Sragen, Sigit Pamungkas.
Dalam sambutannya, Bupati Sragen Sigit Pamungkas mengapresiasi konsistensi Kelompok Tani Ngudi Luhur yang telah menjaga tradisi methil hingga 17 kali berturut-turut. Tradisi methil bareng ini dilakukan sebelum petani melaksanakan panen padi.
Methil sendiri dalam budaya Jawa adalah kegiatan simbolis mengambil beberapa batang padi yang dirangkai menyerupai sepasang sejoli, melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan petani. Setelah batang padi yang dirangkai menyerupai sepasang sejoli diambil, dilakukan tasyakuran dengan makan bersama-sama sebagai wujud ungkapan rasa syukur.
“Siapa yang bersyukur maka nikmatnya akan ditambah. Methil adalah wujud rasa syukur atas panen sekaligus pengingat bagi petani dan pemilik lahan untuk selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah,” ujar Bupati.
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Ngudi Luhur, Suharno, mengucapkan terima kasih atas kehadiran Bupati beserta jajaran dalam acara tersebut. Ia menyampaikan bahwa Poktan Ngudi Luhur merupakan satu-satunya di Kabupaten Sragen yang masih melestarikan tradisi methil secara konsisten.
“Tradisi methil ini adalah warisan leluhur yang terus kami jaga. Alhamdulillah, hasil panen setelah pelaksanaan methil rata-rata mencapai 8–9 ton per hektare dengan harga Rp7.600/kg, di atas rata-rata capaian biasa,” ungkapnya.
Selain menjaga tradisi, Poktan Ngudi Luhur juga berinovasi melalui tanam cepat serentak untuk memaksimalkan hasil produksi pertanian.
Acara tersebut turut dihadiri oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kabupaten Sragen, Eka Rini Mumpuni Titi Lestari, Camat Karangmalang Dani Wahyu Setiyawan, Lurah Plumbungan Leila Yunia Kartikawati, jajaran Musyawarah Pimpinan Kecamatan Kecamatan Karangmalang, koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), serta para petani anggota kelompok Ngudi Luhur.
Lebih lanjut Kepala DKP3 menyampaikan bahwa target produksi gabah kering giling pada tahun 2025 mencapai 700 ribu ton atau setara dengan 380–390 ribu ton beras. Hingga saat ini, capaian produksi sudah mencapai 70 persen dan diperkirakan target tersebut dapat terlampaui.
“Insya Allah target tahun ini meningkat dari tahun sebelumnya. Pemerintah juga telah memberikan dukungan berupa bantuan alat pertanian, seperti rotavator dan combine harvester, guna mempercepat proses olah tanam serta meningkatkan produktivitas,” jelasnya.
Acara tasyakuran methil ini tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya lokal, tetapi juga momentum strategis untuk memperkuat rasa syukur, meningkatkan produktivitas pertanian, serta meneguhkan peran petani sebagai pilar ketahanan pangan di Kabupaten Sragen. (Hendro)
