PATI – Kilasfakta.com, Kondisi Jembatan Sukolilo-Prawoto yang menjadi akses penting bagi masyarakat di Kecamatan Sukolilo kembali menjadi perhatian DPRD Kabupaten Pati. Infrastruktur penghubung dua desa tersebut dinilai sudah tidak memadai untuk menghadapi tingginya debit air sungai saat musim penghujan.
Selama beberapa tahun terakhir, jembatan tersebut kerap terdampak banjir ketika hujan deras mengguyur wilayah hulu. Posisi badan jembatan yang relatif rendah menyebabkan air sungai mudah meluap hingga menutupi sebagian ruas jalan. Situasi ini tidak hanya mengganggu aktivitas warga, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran akan potensi kerusakan yang lebih serius.
Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Pati, Joni Kurnianto, mengatakan pihaknya akan mendorong pemerintah daerah untuk memasukkan proyek rehabilitasi Jembatan Sukolilo-Prawoto ke dalam daftar prioritas pembangunan tahun 2027.
“Di sini sering banjir karena arusnya deras. Saya dorong Pemkab agar ditinggikan dan air tidak meluap ke jalan. Ini memang sudah tidak layak dan saya sebagai anggota dewan saya usulkan untuk jadi list tahun depan,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi jembatan saat ini sudah tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Selain menjadi jalur utama penghubung antardesa, jembatan tersebut juga mendukung aktivitas ekonomi warga, terutama petani yang setiap hari melintasi kawasan tersebut.
Ketika banjir datang, akses transportasi sering terganggu. Bahkan, kendaraan harus melambat atau berhenti karena genangan air yang menutup badan jalan. Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin kerusakan struktur jembatan akan semakin parah.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Joni memperkirakan kebutuhan anggaran yang dibutuhkan mencapai sekitar Rp1 miliar. Dana tersebut direncanakan untuk rehabilitasi secara menyeluruh agar jembatan memiliki konstruksi yang lebih kuat dan aman.
“Semoga ada anggaran untuk perbaikan jembatan, kira-kira Rp1 miliar kalau direhab total,” katanya.
Selain memperlancar mobilitas masyarakat, perbaikan jembatan juga diharapkan mampu mengurangi dampak banjir yang selama ini merugikan warga sekitar. Pasalnya, luapan air tidak hanya menggenangi jalan, tetapi juga merendam area pertanian yang menjadi sumber penghasilan masyarakat.
Joni menyebut banyak petani mengalami kerugian akibat sawah mereka terendam banjir. Dalam beberapa kasus, tanaman yang sudah memasuki masa produktif gagal dipanen karena rusak diterjang genangan air.
“Banyak juga petani yang kebanjiran, sawah gagal panen jadi sangat merugikan,” tegasnya.
Dengan adanya usulan tersebut, masyarakat berharap pemerintah daerah dapat segera merealisasikan pembangunan agar jembatan yang selama ini menjadi titik rawan banjir dapat berfungsi lebih optimal dan memberikan rasa aman bagi pengguna jalan. (Adv)

