JAKARTA – KIlasfakta.com, Menteri Agama (Menag) RI Nasaruddin Umar menegaskan bahwa tantangan zaman yang kian kompleks menuntut hadirnya kepemimpinan umat yang adaptif, berwawasan global, serta menguasai kombinasi antara macro-management dan micro-management. Figur pemimpin masa depan tidak bisa lagi hanya mengandalkan aspek primordial, garis keturunan, atau besarnya jumlah pengikut semata.
Hal tersebut Menag sampaikan di acara Silaturahmi Nasional (Silatnas) Majelis Alumni Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) 2026 di Jakarta, Jumat (7/8/2026).
“Yang diperlukan masa depan itu bukan sekadar figure leader, tetapi juga figure manager. Leader sering kali mengandalkan kebesaran nama, jemaah, atau pengikut, tetapi tidak memiliki kecakapan micro-management. Kepemimpinan yang ideal ke depan adalah yang memiliki gagasan besar secara makro, sekaligus mampu mengeksekusi detail teknis secara mikro,” ujar Menag.

Menag meneladani kepemimpinan Rasulullah SAW sebagai pengelola peradaban yang ideal. Menurutnya, kesuksesan Nabi Muhammad SAW terletak pada kemampuan ganda beliau dalam memimpin dan mengelola.
“Rasulullah SAW itu suksesnya karena selain the best leader, beliau juga the best manager. Banyak orang pintar dan menjadi the best leader, tetapi tidak sanggup untuk menjadi the best manager. Pada setiap masa transisi kepemimpinan, kita mengharapkan sosok yang paham macro-management dan micro-management, memiliki pengalaman riil di tingkat nasional maupun internasional, serta mampu bersiap untuk episentrum peradaban umat masa depan,” tegasnya.
Menurut Menag, transformasi kepemimpinan ini sangat penting mengingat Indonesia sedang berada pada posisi historis untuk mengambil alih peran, salah satunya sebagai episentrum baru peradaban Islam dunia modern. Geopolitik di kawasan Timur Tengah yang kerap terganggu konflik membuat pusat-pusat studi dan peradaban Islam mengalami pergeseran (deteritorialisasi) menuju kawasan Asia Tenggara, di mana Indonesia menjadi tumpuan utamanya.
“Di antara negara-negara Muslim G20, Indonesia memiliki indikator ekonomi dan stabilitas paling unggul dengan pertumbuhan di angka 5,2 persen serta inflasi yang sangat terkendali. Kedamaian dan stabilitas ini adalah modal utama melahirkan para pemikir dan profesor, berbeda dengan wilayah konflik yang cenderung melahirkan iklim ketidakpastian,” terangnya.
Menag menambahkan, peluang besar ini harus direspon oleh organisasi keagamaan dan kemasyarakatan dengan mempersiapkan SDM serta kepemimpinan yang sejajar dengan para pemimpin dunia. Alumni IPNU dan generasi muda Islam dipanggil untuk berpikir merdeka serta melampaui sekat-sekat kedaerahan maupun kesukuan.
Menjelang momentum permusyawaratan besar seperti Muktamar ke-35 NU, Menag juga menitipkan pesan terkait pentingnya etika berorganisasi dan kematangan dalam berdemokrasi. Ia mengimbau para kader dan tokoh untuk mengedepankan iklim saling mendukung serta menjaga kehormatan sesama di ruang publik.
“Di dalam dinamika organisasi, kita harus siap menang dan juga harus legowo untuk siap tidak berhasil. Tidak etis rasanya jika kita mengumbar kelemahan saudara atau sahabat sendiri di depan publik dan media. Siapa pun nanti yang terpilih dan dipercaya oleh forum, sebagai kader kita wajib bersiap memberikan dukungan penuh demi kemajuan bersama,” pungkasnya.
Acara Silatnas Majelis Alumni IPNU 2026 ini dihadiri oleh para alumni, sejumlah tokoh nasional, serta jajaran pengurus IPNU dari berbagai daerah di Indonesia.
(KEMENAG)

