Komisi B Minta Pemkab Pati Waspada Ancaman Penyakit LSDKomisi B Minta Pemkab Pati Waspada Ancaman Penyakit LSD

PATI – Kilasfakta.com, Setelah wabah penyakit mulut dan kaki (PMK) mereda, saat ini beredar penyakit Lumpy Skin Disease (LSD) atau penyakit kulit berbenjol pada hewan ternak sapi dan kerbau.

Oleh karena itu, Ketua Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati dalam hal ini Dinas Pertanian (Dispertan) untuk mewaspadai ancaman wabah tersebut.

“Menurut informasi yang saya peroleh dari beberapa sumber, penyakit yang berawal dari luar negeri sekarang sudah masuk ke beberapa daerah di Jawa Tengah terutamanya di Kabupaten Demak. Karena itu kita perlu meningkatkan kewaspadaan,” ucapnya.

Politisi PDI Perjuangan ini juga mengatakan bahwa saat ini penyebaran LSD juga terus meluas. Maka, ia mendorong Dispertan untuk segera berkoordinasi dengan pihak terkait guna melakukan pencegahan.

Untuk mengantisipasi merebaknya kasus tersebut, lanjut dia, perlu dilakukan edukasi massif agar masyarakat dan peternak lebih sigap dan tidak panik saat menjumpai gejala tersebut di hewan ternaknya.

“Saya minta dinas terkait bergerak cepat melakukan koordinasi dengan pemerintah pusat maupun membuat SOP, agar penyakit ini bisa diatasi lebih dini,” imbuhnya.

Sebagai informasi, LSD adalah penyakit kulit infeksius yang disebabkan oleh Lumpy Skin Disease Virus (LSDV) yang merupakan virus bermateri genetik DNA dari genus Capripoxvirus dan famili Poxviridae.

Hewan yang terinfeksi penyakit ini umumnya  memiliki gejala demam tinggi, penurunan tajam produksi susu dan mastitis sekunder, penurunan berat badan, infertilitas, sterilitas pada sapi pejantan bibit, aborsi, dan kerusakan kulit permanen. Akibatnya hewan ternak punya periode kesembuhan yang lama, tidak dapat kembali ke tingkat produksi yang sama.

Penularan penyakit ini bisa terjadi dengan cara kontak langsung dengan lesi kulit, virus LSD  diekskresikan melalui darah leleran hidung dan mata, air liur, semen  dan susu serta intrauterine. Kemudian, kontak secara tidak langsung penularan terjadi melalui peralatan dan  perlengkapan yang terkontaminasi virus LSD seperti pakaian kandang,  peralatan kandang dan jarum suntik; serta penularan secara mekanis terjadi melalui vektor yaitu nyamuk, lalat dan caplak.

LSD juga mempunyai tingkat  mortalitas (angka kematian) mencapai 12%, dan morbiditas (angka kesakitan/penularan) mencapai 35 – 40%. LSD juga dapat meyebabkan  abortus, penurunan produksi susu pada sapi perah, infertilitas dan demam  berkepanjangan. Namun, sampai saat ini belum ada laporan terkait kejadian LSD pada ruminansia lain seperti kambing dan domba, dan tidak termasuk penyakit zoonosis.

Tinggalkan Balasan

Exit mobile version