
Dwi Budiarto, M.Pd.
SDN Sentul 01, Kec. Cluwak, Kab. Pati
Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang sangat penting sekali kedudukannya, karena dapat mengembangkan pembelajaran lainnya. Selain itu ilmu matematika juga merupakan ilmu pokok yang pasti akan diterapkan oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu cabang ilmu matematika adalah berhitung, sehingga dalam pembelajaran materi berhitung harus dikemas sedemikian rupa agar siswa menjadi lebih senang dalam mempelajarinya. Perhitungan yang rumit dalam pelajaran matematika akan mengakibatkan siswa cenderung bosan untuk mempelajari matematika.
Siswa sekolah dasar umumnya berada pada jenjang umur 7- 12 tahun, pada usia tersebut pemikiran siswa masih didasarkan atas manipulasi fisik dari objek-objek, siswa yang ada pada
usia ini hanya mampu menunjukkan kenyataan adanya hubungan dengan pengalaman empiris konkret. Pada tahap ini siswa juga sudah biasa berpikir logis tentang hal-hal yang rumit. Hal-hal yang disajikan secara konkret dalam artian disajikan dalam wujud yang biasa ditangkap dengan alat indera tanpa adanya benda-benda konkret, siswa akan mengalami kesulitan dalam memahami banyak hal dan dalam berpikir secara logis sehingga untuk siswa yang berada pada usia ini pengajaran yang lebih ditekankan pada hal-hal bersifat verbal, tanpa peragaan secara konkret akan sukar dipahami oleh siswa (Agustina, 2019).
Dengan demikian dalam pembelajaran matematika diperlukan alat bantu berupa alat peraga. Menurut Widya (2006:2) pemanfaatan alat peraga dalam pembelajaran matematika sangat diperlukan karena dengan menggunakan alat peraga dimungkinkan dapat membantu siswa berpikir abstrak sehingga penggunaan alat peraga sangat diperlukan dalam menjelaskan dan menanamkan konsep pembelajaran matematika.
Dari analaisis tersebut penulis yang merupakan guru kelas VI SD Negeri Sentul, Kecamatan Cluwak Kabupaten Pati mencoba menyajikan pembelajaran yang lebih bermakna bagi siswa pada pelajaran matematika materi penjumlahan bilangan bulat, dengan menggunakan media alat peraga garis bilangan. Penggunaan media tersebut adalah salah satu alternatife peningkatkan hasil belajar penjumlahan bilangan bulat, karena melalui pembelajaran dengan media ceramah dan diskusi sebelumnya masih banyak siswa yang mendapat nilai di bawah KKM yang ditetapkan.
Menurut Wijaya dan Rusyan (1994) alat peraga adalah suatu media yang dipergunakan dalam proses pendidikan agar peserta didik dengan mudah memahami materi yang disampaikan atau peserta didik tidak merasa kebingungan. Alat peraga garis bilangan berfungsi untuk menanamkan konsep penjumlahan, pengurangan perkalian dan pembagian serta berguna untuk membantu siswa memahami operasi hitung bilangaan bulat.
Langkah-langkah penggunaan garis bilangan pada penjumlahan misalnya pada soal 3 +5 adalah dengan cara membuat garis bilangan, kemudian buat garis I dengan cara tarik garis dari angka nol sepanjang 3 satuan. Kemudian buat garis II dengan cara tarik garis dari akhir garis I sepanjang 5 satuan. Selanjutnya buat garis III dengan cara tarik garis dari angka nol hingga akhir garis II, sehingga hasil dari penjumlahan ditunjukkan oleh garis III, yaitu 3 + 5 = 8.
Setelah penggunaan media garis bilangan tersebut terbukti mampu meningkatkan hasil belajar materi penjumlahan bilangan bulat pada siswa kelas VI, hal ini dibuktikan dengan meningkatnya nilai yang di dapatkan siswa, sehingga target siswa yang mendapatkan nilai di atas KKM dapat terpenuhi. Penggunaan media garis bilangan juga menjadikan siswa lebih antusias dalam mengikuti pembelajaran. Sehingga dengan keberhasilan ini penulis sangat merekomendasikan penggunaan media garis bilangan pada materi pembelajaran yang berhubungan dengan penjumlahan atau pengurangan.

