PEKALONGAN – Kilasfakta.com, Nama Kota Pekalongan yang kini dikenal dengan julukan “Kota santri” dan “Kota Batik”, memiliki sejarah panjang yang terjalin erat dengan peradaban Indonesia. Asal-usul Kabupaten Pekalongan diyakini sudah berdiri sejak 1622, pada masa kejayaan Mataram Islam di bawah kepemimpinan Sultan Agung Hanyokrokusumo.
Meskipun demikian, jejak-jejak sejarah menunjukkan bahwa daerah ini telah menjadi permukiman manusia jauh sebelum masa Mataram Islam, bahkan sejak era Mataram Kuno. Hal ini tercermin dari penemuan berbagai peninggalan sejarah yang menunjukkan bahwa wilayah ini sudah dihuni oleh berbagai kelompok masyarakat sejak ribuan tahun lalu.

Nama Pekalongan sendiri dipercaya berasal dari kata “Halong”, yang dalam bahasa Jawa berarti banyak. Konon, nama ini berawal dari sebuah kisah tentang seorang prajurit Mataram bernama Joko Bau, atau lebih dikenal dengan nama Bahureksa. Joko Bau adalah bawahan Sultan Agung yang diberi tugas untuk membuka hutan angker di pesisir utara, sebuah wilayah yang saat itu penuh dengan misteri dan dipercaya penuh dengan bahaya.
Setelah berhasil membuka hutan tersebut dan menjadikan daerah itu layak dihuni, Joko Bau mendapatkan hadiah berupa tanah. Tanah yang ia dapatkan itu kemudian dikenal dengan nama “Pengangsalan” atau “Halong”, yang merujuk pada banyaknya hasil alam yang bisa dimanfaatkan oleh penduduk sekitar.
Pembentukan Kabupaten Pekalongan sebagai sebuah daerah administratif baru terjadi jauh setelah peristiwa tersebut, yaitu pada tahun 1950, berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1950 tentang Pemerintah Daerah Kabupaten dalam Lingkungan Provinsi Jawa Tengah.
Keputusan pembentukan ini menandai langkah penting dalam perkembangan daerah ini menjadi sebuah kabupaten yang mandiri, dengan struktur pemerintahan yang lebih formal dan terorganisir. Sebelumnya, wilayah Pekalongan merupakan bagian dari wilayah administratif yang lebih besar dan baru pada tahun 1950-an Pekalongan resmi menjadi kabupaten tersendiri.
Pada awalnya, pusat pemerintahan Kabupaten Pekalongan terletak di Kota Pekalongan, yang dikenal sebagai pusat kegiatan ekonomi dan perdagangan di wilayah pesisir utara Jawa. Kota ini memiliki pelabuhan yang strategis dan menjadi tempat penting dalam jalur perdagangan antara Jawa, Sumatra, dan Bali.
Namun, pada 25 Agustus 2001, pusat pemerintahan Kabupaten Pekalongan dipindahkan ke Kota Kajen. Perpindahan ini dilakukan dengan tujuan untuk lebih memusatkan administrasi di daerah yang lebih sentral dan strategis, serta untuk mengoptimalkan pelayanan kepada masyarakat di seluruh pelosok kabupaten.
Selain kisah pembentukan administratif, Kabupaten Pekalongan juga kaya akan peninggalan sejarah yang menjadi saksi bisu perjalanan panjang peradaban manusia di wilayah ini. Di beberapa tempat di Kabupaten Pekalongan, terdapat situs-situs megalitik dan lingga yoni yang menunjukkan bahwa daerah ini sudah dihuni oleh manusia sejak zaman prasejarah. Peninggalan-peninggalan tersebut menjadi bukti kuat bahwa Pekalongan telah menjadi pusat pemukiman sejak ribuan tahun lalu, bahkan sebelum kerajaan-kerajaan besar seperti Mataram Islam hadir di wilayah ini.
Sebagai bagian dari perjalanan sejarah yang panjang, Pekalongan juga mencatatkan momen penting dalam peringatan hari jadinya. Hari Jadi Kabupaten Pekalongan ditetapkan jatuh setiap tanggal 25 Agustus, yang merujuk pada tahun 1622, saat daerah ini pertama kali menjadi bagian dari kerajaan Mataram Islam. Sejak saat itu, tanggal ini dijadikan sebagai simbol dari kebangkitan dan pembentukan identitas Kabupaten Pekalongan, yang hingga saat ini terus berkembang menjadi salah satu kabupaten yang dikenal akan kekayaan budaya dan kearifan lokalnya.
Kekayaan budaya yang dimiliki Pekalongan, terutama dalam hal seni Batik, juga tidak terlepas dari sejarah panjangnya. Batik Pekalongan yang telah mendunia, baik dari segi motif maupun teknik pembuatan, menjadi salah satu identitas utama daerah ini. Kota Pekalongan, sebagai bagian dari kabupaten, dikenal sebagai pusat industri Batik yang terkenal di Indonesia dan mancanegara. Proses pembuatan Batik yang diwariskan dari generasi ke generasi ini menjadi cermin dari semangat kerajinan dan kreativitas masyarakat Pekalongan, yang selalu berupaya mempertahankan tradisi sambil mengikuti perkembangan zaman.
Namun, meskipun dikenal dengan Batiknya, Pekalongan juga memiliki potensi luar biasa di sektor lain, seperti pertanian dan perikanan. Sebagai daerah yang terletak di pesisir utara, Pekalongan memiliki sumber daya alam yang melimpah, yang mendukung kehidupan masyarakatnya. Kehadiran pelabuhan dan pesisir yang luas menjadikan Pekalongan sebagai tempat yang strategis untuk kegiatan perikanan, serta pengembangan sektor pertanian yang produktif. Berbagai produk pertanian dari Pekalongan, seperti padi, jagung, dan sayuran, turut menyumbang perekonomian daerah ini.
Seiring berjalannya waktu, Pekalongan terus berupaya mengembangkan diri dalam berbagai sektor, baik dari segi infrastruktur, pendidikan, maupun kesehatan. Pemindahan pusat pemerintahan ke Kajen juga menunjukkan upaya untuk lebih meratakan pembangunan di seluruh penjuru kabupaten.

Pemerintah Kabupaten Pekalongan berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui berbagai program yang menyentuh langsung kehidupan warga, termasuk di sektor pertanian, perdagangan, dan pariwisata.
Masa depan Kabupaten Pekalongan tampak cerah dengan segala potensi yang dimiliki. Sejarah yang panjang dan budaya yang kaya menjadi modal utama untuk mengembangkan daerah ini menuju kemajuan. Dengan hari jadi yang diperingati setiap 25 Agustus, masyarakat Kabupaten Pekalongan terus berupaya untuk menjaga dan mengembangkan warisan budaya mereka, sambil tetap menghadapi tantangan zaman dengan semangat gotong-royong dan inovasi yang berkelanjutan. Pekalongan, yang sejak dulu dikenal sebagai daerah yang kaya akan tradisi dan sejarah, akan selalu menjadi bagian penting dalam perjalanan panjang bangsa Indonesia. (Hr/Kf)

