PATI — Kilasfakta.com, Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, menghadiri penandatanganan kerja sama sekaligus peluncuran Gerakan Investasi Wakaf Uang (GIWANG) yang diinisiasi Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Pati. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Lantai 2 Kantor Kemenag Pati dan dihadiri berbagai pemangku kepentingan lintas instansi.
Dalam sambutannya, Chandra memberikan apresiasi tinggi kepada Kemenag Pati yang dinilainya menjadi pionir nasional dalam penerapan sistem wakaf uang. Ia menyebut terobosan tersebut sebagai langkah progresif dalam membangun kepedulian sosial berbasis keagamaan.
“Kementerian Agama Kabupaten Pati menjadi yang pertama di Indonesia menerapkan sistem wakaf uang. Ini motivasi yang luar biasa. Insyaallah, ke depan Pemerintah Kabupaten Pati juga dapat mengadopsi dan mengembangkan gerakan serupa,” ujarnya.
Chandra juga mengaitkan peluncuran GIWANG dengan kondisi Kabupaten Pati yang masih dilanda bencana banjir sejak awal Januari. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus bergotong royong membantu para korban.
“Sejak 9 Januari hingga kini banjir belum sepenuhnya surut. Masa tanggap darurat pun kami perpanjang hingga 6 Februari. Kami mohon dukungan semua pihak untuk membantu saudara-saudara kita yang terdampak,” katanya.
Menurutnya, wakaf uang menjadi solusi konkret yang mampu mengubah pandangan masyarakat bahwa wakaf hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki aset besar. Melalui GIWANG, wakaf dapat dimulai dari nominal kecil namun berdampak luas.
“Wakaf tidak harus menunggu kaya. Seribu atau dua ribu rupiah pun sudah termasuk wakaf. Bahkan ada slogan menarik, DRS BEJO—Dua Ribu Saja Sebelum Kerjo. Ini inisiatif yang sangat membumi,” ungkapnya.
Chandra menegaskan komitmen Pemkab Pati untuk mendukung penguatan gerakan wakaf hingga ke lingkungan perkantoran dan satuan pendidikan. Ia menilai langkah tersebut penting sebagai sarana edukasi kepedulian sosial bagi generasi muda, khususnya generasi Z dan alpha.
Sementara itu, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Pati, Ahmad Syaikhu, menjelaskan bahwa GIWANG dilatarbelakangi oleh kepedulian terhadap angka kemiskinan di Kabupaten Pati yang masih berada di kisaran 9,8 persen atau sekitar 105 ribu jiwa.
“Pengentasan kemiskinan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan peran bersama masyarakat dan sektor swasta,” tegasnya.
Ia menambahkan, wakaf uang dipilih karena bersifat inklusif dan berkelanjutan. Menurutnya, wakaf tidak mensyaratkan kepemilikan aset besar, melainkan dapat dilakukan oleh siapa saja sesuai kemampuan.
“Wakaf uang bisa dimulai dari nominal kecil, namun manfaatnya berkelanjutan. Ini investasi akhirat yang pahalanya terus mengalir,” jelas Syaikhu.
Selain itu, wakaf uang juga dipandang sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus ikhtiar spiritual untuk menolak bala melalui sedekah yang dilakukan secara terus-menerus.
Syaikhu memaparkan, potensi wakaf uang di lingkungan Kemenag Pati sangat besar. Dengan jumlah pegawai sekitar 921 orang, puluhan ribu siswa madrasah, guru, serta jaringan pondok pesantren, potensi dana wakaf diperkirakan dapat mencapai miliaran rupiah setiap tahun.
Dana tersebut akan dikelola secara profesional melalui kerja sama dengan Bank Muamalat dan Baitulmaal Muamalat, serta disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan berdasarkan data terpadu dari Dinas Sosial.
Melalui GIWANG, diharapkan wakaf uang mampu menjadi kekuatan baru dalam memperkuat solidaritas sosial dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Pati secara berkelanjutan. (KF)
