MAGELANG – Kilasfakta.com, Sebanyak 83 guru SD dan SMP di Kota Magelang disiapkan menjadi penggerak pembiasaan bahasa Jawa di sekolah. Melalui pembekalan bahasa dan tata krama Jawa, para guru diharapkan mampu menularkan penggunaan bahasa Jawa sekaligus nilai unggah-ungguh, etika, dan budi pekerti kepada para siswa.

Upaya tersebut menjadi bagian dari kegiatan Pawiyatan Panatacara Tuwin Pamedhar Sabda Bregada XXXV Tahun 2026 yang digelar di Aula Cendikia Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Magelang, Senin (7/9/2026).

Kepala Disdikbud Kota Magelang, Nurwiyono Slamet Nugroho, menyampaikan, 83 peserta tersebut merupakan guru-guru jenjang SD dan SMP di Kota Magelang.

Melalui pelatihan ini, para guru tidak hanya dibekali keahlian sebagai pembawa acara berbahasa Jawa, tetapi juga disiapkan menjadi “duta kebudayaan” di sekolahnya masing-masing.

“Sebagai tindak lanjut dari pelatihan ini, para guru diharapkan dapat menyusun dan menerapkan program pembiasaan berbahasa Jawa di sekolah, setidaknya satu hari dalam seminggu,” ujar Nurwiyono.

Wali Kota Magelang Damar Prasetyono mengatakan, penggunaan bahasa Jawa di lingkungan sekolah perlu dibiasakan sebagai bagian dari upaya melestarikan budaya sekaligus membentuk karakter dan tata krama siswa.
Hal itu disampaikan Damar saat memberikan sambutan dalam kegiatan tersebut.

“Pembelajaran bahasa dan tata krama Jawa tidak sekadar berkaitan dengan kemampuan berbahasa, tetapi juga mengajarkan unggah-ungguh, etika, serta cara berinteraksi dengan orang lain,” terangnya.

Damar menilai guru memiliki posisi penting karena menjadi teladan yang setiap hari dilihat dan didengar siswa. Sikap, cara berbicara, dan perilaku guru dapat menjadi contoh langsung bagi siswa dalam menerapkan unggah-ungguh dan menghargai orang lain.
Karena itu, ia meminta pengetahuan yang diperoleh para guru melalui pawiyatan tidak berhenti sebagai keterampilan pribadi, tetapi diterapkan di sekolah dan diteruskan kepada para siswa.

“Bahasa Jawa dapat digunakan secara tepat dalam keseharian, sementara unggah-ungguh dibiasakan melalui praktik dan keteladanan,” ungkapnya.

Selain penguatan karakter dan tata krama, pembiasaan bahasa Jawa juga diarahkan untuk menyiapkan siswa menghadapi perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai budaya dan budi pekerti.
Penanaman nilai-nilai luhur berbasis budaya Jawa tersebut nantinya akan diintegrasikan secara berkelanjutan ke dalam kurikulum khas sekolah.

Pembekalan ini juga menjadi wadah pembinaan bagi para siswa untuk menghadapi berbagai ajang kompetisi bahasa dan sastra Jawa, seperti Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI), yang mencakup lomba geguritan, sesorah, macapat, hingga mendongeng.
Dengan pembiasaan yang dilakukan secara konsisten di sekolah, bahasa Jawa diharapkan tidak hanya dipelajari sebagai materi pembelajaran, tetapi menjadi bagian dari keseharian siswa sekaligus sarana menanamkan karakter, tata krama, dan kecintaan terhadap budaya daerah.

(Hms.Jtg)

Exit mobile version