Para peserta kegiatan sedang mencoba akses "Smart PAI" dalam peluncuran 39 buku teks utama PAI dan Budi Pekerti untuk jenjang PAUD/TK hingga SMA/SMK/SLB serta satu buku ajar PAI untuk perguruan tinggi umum, di Jakarta, Rabu (5/8/2026)Para peserta kegiatan sedang mencoba akses "Smart PAI" dalam peluncuran 39 buku teks utama PAI dan Budi Pekerti untuk jenjang PAUD/TK hingga SMA/SMK/SLB serta satu buku ajar PAI untuk perguruan tinggi umum, di Jakarta, Rabu (5/8/2026)

JAKARTA – Kilasfakta.com, Kementerian Agama meluncurkan platform digital Smart PAI yang memungkinkan guru, siswa, mahasiswa, dan masyarakat mengakses 40 buku Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Budi Pekerti secara daring. Platform ini diperkenalkan bersamaan dengan peluncuran 39 buku teks utama PAI dan Budi Pekerti untuk jenjang PAUD/TK hingga SMA/SMK/SLB serta satu buku ajar PAI untuk perguruan tinggi umum.

Dalam simulasi penggunaan Smart PAI pada acara peluncuran, tim pengembang Aditya Putri Pertiwi menjelaskan bahwa platform tersebut dapat diakses melalui laman smartpai.kemenag.go.id. Pengguna cukup melakukan registrasi untuk membaca maupun mengakses buku-buku yang telah disediakan.

Untuk mulai menggunakan Smart PAI, pengguna dapat mengikuti langkah-langkah berikut:

  1. Buka laman smartpai.kemenag.go.id.
  2. Pilih menu Registrasi.
  3. Isi data yang diminta, mulai dari jenjang pendidikan, nama lengkap, tanggal lahir, alamat email, nomor telepon, hingga alamat domisili.
  4. Setelah registrasi berhasil, pengguna akan menerima email untuk membuat kata sandi.
  5. Login menggunakan email dan kata sandi yang telah dibuat.
  6. Setelah masuk, pengguna dapat langsung membaca atau mengunduh buku-buku PAI secara digital.

Seluruh buku yang diluncurkan telah diklasifikasikan berdasarkan jenjang pendidikan sehingga memudahkan pencarian materi.

“Semua buku yang hari ini diluncurkan sudah langsung bisa diakses dari mana pun, kapan pun, dan di mana saja,” ujar Aditya Putri Pertiwi di Jakarta, Rabu (5/8/2026).

Smart PAI tidak hanya berfungsi sebagai perpustakaan digital. Platform ini juga dilengkapi delapan fitur utama, yakni kelas interaktif, buku digital PAI dan Budi Pekerti, bank soal, registrasi peserta dan guru, akses Al-Qur’an digital yang terhubung dengan Quran Kemenag, kanal berita PAI, agenda kegiatan, serta asisten berbasis kecerdasan buatan (AI).

Fitur AI menjadi salah satu pembeda utama Smart PAI. Melalui ikon asisten digital yang tersedia di dalam platform, pengguna dapat mengajukan pertanyaan terkait materi yang terdapat dalam buku-buku yang telah diluncurkan.

“Semua jawaban AI bersumber dari 40 buku yang diluncurkan hari ini. Jika informasi yang ditanyakan tidak terdapat dalam buku-buku tersebut, sistem akan menjawab bahwa informasi itu tidak tersedia,” tuturnya.

Pengguna, misalnya, dapat menanyakan materi tertentu, mencari pembahasan tentang Kurikulum Cinta, atau meminta sistem menunjukkan halaman dan buku yang memuat topik tertentu.

Sebelumnya, Direktorat Pendidikan Agama Islam menjelaskan bahwa Smart PAI dikembangkan sebagai bagian dari transformasi digital pembelajaran agama Islam. Platform ini mengintegrasikan Learning Management System (LMS), perpustakaan digital, asesmen, hingga analitik pembelajaran dalam satu ekosistem.

Sistem tersebut dirancang untuk mendukung pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan secara aman dan terukur sesuai kurikulum nasional.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Amien Suyitno, menegaskan bahwa kehadiran platform digital tidak akan menggantikan peran guru PAI. Menurutnya, teknologi dapat membantu transfer pengetahuan, tetapi pendidikan nilai dan pembentukan karakter tetap membutuhkan kehadiran guru.

“Transfer of knowledge bisa dibantu oleh platform digital. Tetapi transfer of values adalah proses yang tidak pernah selesai,” ujar Amien.

Peluncuran Smart PAI sekaligus menjadi pelengkap bagi 39 buku teks utama PAI dan Budi Pekerti yang telah diintegrasikan dengan program Tuntas Baca Al-Qur’an, Kurikulum Cinta, serta penguatan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Melalui kombinasi buku digital dan teknologi AI, Kementerian Agama berharap akses terhadap sumber belajar agama Islam menjadi semakin luas, mudah, dan relevan dengan kebiasaan belajar generasi digital.

(KEMENAG)