BATANG – Kilasfakta.com, Sinergi antara akademisi, industri, dan pemerintah daerah terwujud dalam program pemulihan ekosistem pesisir di Kabupaten Batang. PT Bhimasena Power Indonesia (BPI) selaku pengelola PLTU Batang bergandengan tangan dengan Universitas Diponegoro (Undip) serta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang meluncurkan produk hilirisasi riset Artificial Fish Apartment (AFA) dan Artificial Patch Reef (APR) pada Senin (26/10/2026).
Program ini memanfaatkan material Fly Ash and Bottom Ash (FABA) sisa pembakaran PLTU Batang yang diolah menjadi terumbu karang dan rumah ikan buatan melalui pendekatan ekonomi sirkular. Dalam rentang 2020 hingga 2025, sebanyak 4 unit AFA dan 8 unit APR telah dipasang di perairan Batang, dan berlanjut dengan penambahan 12 unit AFA serta 10 unit APR pada tahun 2026.
Pemantauan ilmiah Undip pada 2025 di Karang Sebapang mencatat keberhasilan struktur buatan ini, di mana ditemukan 19 spesies ikan karang dengan total 208 individu yang mulai mendiami lokasi tersebut.
Bupati Batang, M. Faiz Kurniawan, memberikan apresiasi atas langkah konkret hilirisasi riset yang langsung berdampak bagi kelestarian lingkungan dan ekonomi nelayan lokal.
“Hasil penelitian perlu diwujudkan menjadi inovasi konkret yang dapat diterapkan dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Keberhasilan hilirisasi tidak hanya diukur dari kecanggihan teknologi, tetapi juga dari penerapan, kebermanfaatan, serta keberlanjutan hasilnya,” ujar Faiz.
Rektor Undip, Prof. Suharnomo, menegaskan komitmen perguruan tinggi untuk menghadirkan riset terapan yang mampu menjawab kebutuhan industri sekaligus menjaga kelestarian alam.
“Kolaborasi ini merupakan wujud komitmen Undip untuk terus bergerak bersama dunia industri, dan menjawab kebutuhan industri di Kabupaten Batang, melalui riset, inovasi, dan penerapan ilmu pengetahuan,” kata Suharnomo.
Sementara itu, Chief Operating Officer PT BPI, Naofumi Yasuda, menyampaikan bahwa pengembangan struktur rumah ikan buatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan dokumen Amdal dan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) untuk menjaga ekosistem pesisir.
“Sebagai perusahaan yang beroperasi di Batang, kami senantiasa membangun sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan. Kami percaya bahwa hasil terbaik dapat dicapai ketika semua pihak bekerja bersama sebagai satu tim,” tutur Naofumi.
(Hms.Jtg)
