OLEH: Khoeri Abdul Muid, S.Pd.,M.Pd.

Kepala SD Negeri Koripandriyo, Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati

Email: khoeriabdul2006@gmail.com

Dalam membahas Taksonomi Bloom dan Kurikulum Merdeka ini saya menggunakan pola bahasan filsafat, yakni dari angel landasan ontologis, landasan aksiologis dan landasan epistemologis.

LANDASAN ONTOLOGIS

Landasan Ontologis ingin menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat Taksonomi Bloom.

Kata taksonomi berasal dari bahasa Yunani yakni tassein, artinya menggolongkan, dan nomos, yang berarti aturan. Jadi, taksonomi secara leksikal berarti, ‘aktivitas menggolongkan aturan-aturan’. Sementara itu, arti derivatifnya adalah suatu proses menggolongkan tingkatan derajat berpikir yang meningkat dari yang terendah ke tingkat yang lebih tinggi, dan memuat kompleksitas seluruh potensi daya pikir manusia.

‘Bibit kawit’-nya berawal dari penemuan sederhana 3H oleh Johansen, seorang berkewarga-negaraan Italia. H pertama, disebutnya head (kognitif), H kedua adalah heart (afektif), dan H ketiga ialah hand (psikomotor). Ketiga ranah tersebut merupakan suatu siklus yang bersifat perenial. Akan tetapi, pada ranah kognitif, pembahasan dan eksplanasi semakin dipertajam dan diperluas untuk memperdalam eksplorasi, bukan hanya sebagai human being melainkan sebagai thoughtful being atau manusia yang berpikir.

Taksonomi Bloom adalah model multi-tier untuk mengklasifikasikan pemikiran menurut enam tingkat kognitif kompleksitas. Taksonomi Bloom terdiri dari tiga domain:

Domain kognitif – domain berdasarkan pengetahuan, terdiri dari enam level.

Domain Afektif – domain berdasarkan sikap, terdiri dari lima level.

Domain Psikomotor – domain berbasis keterampilan, yang terdiri dari enam level.

Level taksonomi Bloom digambarkan sebagai tangga, yang menuntun banyak orang/guru untuk mendorong siswa mereka untuk “naik ke tingkat pemikiran yang lebih tinggi.” Tiga level terendah versi lama adalah: pengetahuan, pemahaman, dan aplikasi. Tiga tingkat tertinggi versi lama juga adalah: analisis, sintesis, dan evaluasi.

Pada tahun 1990-an siswa Bloom, Lorin Anderson melakukan revisi taksonimi Bloom sebagai berikut.

Mengingat: Pertama dan terutama, manusia terus-menerus belajar bertanya untuk mengetahui (learning to know), mengetahui apa saja yang dihadapi dan berhadapan dengan manusia sebagai thoughtful being (Tulasi). Terdiri dari aktivitas mengambil, mengenali, dan mengingat pengetahuan yang relevan dari jangka panjang ingatan.

Memahami: Pada taraf ini manusia mulai memasuki dan belajar untuk memahami (understanding). Ini berarti hasil endapan pengetahuan yang termuat dalam kognisi manusia yang aktif mengingat semua pengalamannya, ditransformasikan dalam bentuk kalimat imperatif untuk dilaksanakan dalam alam praksis pada sudut kognisi yang derajat keaktifannya mulai meningkatkan makna (Tulasi). Terdiri dari aktivitas membangun makna dari pesan lisan, tertulis, dan grafis melaluimenafsirkan, memberi contoh, mengklasifikasikan, meringkas, menyimpulkan, membandingkan, dan menjelaskan.

Menerapkan: Level yang ketiga adalah mengaplikasi (application) sebuah kata benda yang diubah menjadi ‘applying’ yakni kata kerja participle bersifat kontinum. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya mengaktifkan logika sekaligus menggerakkan semua anggota tubuh yang berfungsi menjalankan perintah otak (the ordering of cognitive human being) dan bermuara pada psikomotor (Tulasi). Terdiri dari aktivitas melaksanakan atau menggunakan prosedur melalui eksekusi, atau implementasi.

Menganalisis: Menganalisis berarti menguraikan dan mendistingsikan setiap komponen dalam sistem secara menyeluruh. Bagian-bagian setiap konstruk dianalisis secara individual, sekaligus melihat interelasi diantara semua unsur yang terlibat. Inilah wilayah analisis yang mengungkap kebenaran dari tiap-tiap unsur. Ketersebaran makna tampak pada daya analisis yang menjangkau dan menyentuh semua unsur (Tulasi). Terdiri dari aktivitas memecah materi menjadi bagian-bagian penyusun, menentukan bagaimana bagian-bagiannya berhubungan dengan satu lain dan ke struktur keseluruhan atau tujuan melalui diferensiasi, pengorganisasian, dan menghubungkan.

Mengevaluasi: Pertanyaan dasar pada level Meng-evaluasi, misalnya: (1) what does this expression mean?; (2) why were the bears angry with Goldilocks?; (3)do you think she learned anything by going into the bears’ house? Explain your answer!; (4) would you have gone into the bears’ house? Why and why not? (Tulasi). Inti mengevaluasi adalah membuat penilaian berdasarkan kriteria dan standar melalui pemeriksaan dan pengkritisan.

Menciptakan: Mencipta pada level taksonomi Bloom ditempatkan pada posisi paling akhir dari semua derajad berpikir tingkat tinggi, oleh karena level berpikir mencipta merupakan sintesis yang mengadopsi semua komponen menjadi suatu kesatuan yang utuh, dan menjadi hasil produk terakhir dari seluruh proses yang terjadi. Terdiri dari aktivitas menempatkan elemen bersama untuk membentuk keseluruhan yang koheren atau fungsional; reorganisasielemen ke dalam pola atau struktur baru melalui pembangkit, perencanaan, atau produksi.(Anderson & Krathwohl, 2001, hlm. 67-68).

LANDASAN AKSIOLOGIS

Landasan aksiologis menjawab pertanyaan untuk apa pengetahuan yang berupa Taksonomi Bloom itu dipergunakan. Sebagaimana telah diperlihatkan oleh sejarah, skema yang dikenal luas dan banyak digunakan ini mengisi kekosongan dan memberi para pendidik salah satu klasifikasi sistematis pertama dari proses berpikir dan belajar. Taksonomi Bloom juga menyediakan alat ukur untuk berpikir.

Semua lembaga pendidikan formal di dunia mengadopsi pengklasifikasian cara berpikir yang berjenjang karya Bloom menjadi acuan berpikir yang meningkat oleh karena mudah dalam penerapan dan pemahamannya.

LANDASAN EPISTEMOLOGIS

Landasan epistemologis menyangkut bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa Taksonomi Bloom? Lebih spesifik, pada konteks Kurikulum Merdeka, bagaimanakah cara paling aplikatif dalam menggunakan Taksonimi Bloom?

Bahwa penerapan Taksonomi Bloom pada dasarnya ialah taraf derajat berpikir dirunut ketat dari yang lebih rendah meningkat ke taraf derajat berpikir yang lebih tinggi. Hal tersebut akan terasa makna penerapannya pada saat kita menginternalisasi kata kerja-kata kerja operatif yang diajukan Bloom pada setiap tingkatan berpikirnya. Meski pada saat tertentu penghayatan kita menjadi agak kabur oleh karena penggunaan kata kerja-kata kerja operatif pada setiap tingkatan berpikirnya, seperti tak bergerak menyelam. Namun, pada saat kita berkontemplasi agak mendalam, kita akan menemukan bahwa jurus-jurus pengajuan kata kerja-kata kerja operatif itu termuat dan memuat esensi penerapannya pada penggunaan kalimat afirmatif dan imperatif. Dibutuhkan cara mendistingsikan dan memberi makna yang merambat, agar masing-masing kata kerja operatif pada tiap tingkatan berpikir menambah arti yang signifikan meningkat.

Sebagaimana dilakukan Tim Bloom yang pada awalnya berharap untuk mengurangi duplikasi usaha oleh fakultas di berbagai universitas. Pada awalnya, ruang lingkup tujuan mereka terbatas untuk memfasilitasi penggantian item tes dan mengukur tujuan pembelajaran. Maka metode penggunaan taksonomi Bloom dalam pembelajaran, termasuk pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka yang salah satu karakter utamanya ialah adanya fleksibilitas bagi guru untuk melakukan pembelajaran yang terdiferensiasi sesuai dengan kemampuan peserta didik dan melakukan penyesuaian dengan konteks dan muatan local, — bisa dilakukan sebagai berikut. Pertama-tama, tentukan tujuan pembelajaran. Kemudian, tentukan kompetensi pembelajaran. Tentukan ranah kemampuan ranah kognitif/psikomotorik/afektif berikut tingkatannya sesuai taksonomi Bloom. Lalu, gunakan kata kerja kunci yang sesuai.

Dalam konteks Kurikulum Merdeka, Taksonomi Bloom tidak saja dapat membantu guru untuk melihat dan menentukan level koqnitif siswa (asesmen diagnostic) tapi ia sangat membantu guru dalam menentukan konsep belajar dan rancangan proses kegiatan belajar siswa yang memerdekakan. MERDEKA!!! (*)

 

Terima kasih atas tanggapannya

%d blogger menyukai ini: