Oleh: Yeni Susilowati, S.Pd.SD (Guru SDN Sitirejo,Kec. Tambakromo, Kab. Pati) 

Seiring dengan penurunan kasus covid-19 yang sempat melonjak akibat varian delta, kini semua jenjang pendidikan di Pati kembali menerapkan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas. Hal ini menjadi angin segar baik bagi siswa agar tidak merasa bosan dengan rutinitas belajar di rumah serta yang dapat menyampaikan materi secara langsung di hadapan anak didiknya.

Namun kembalinya siswa dalam pembelajaran PTM memiliki tantangan tersendiri, apalagi kelas II yang sejak masuk bangku SD sudah melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Selama PJJ umumnya siswa akan mengikuti pembelajaran maupun tes dengan bimbingan orangtua bahkan tak jarang malah orangtuanya yang mengerjakan. Ketika PTM sudah berlangsung, siswa perlu dibiasakan dengan kondisi sekolah tatap muka agar terhindar dari rasa malas mengikuti pembelajaran.

Agar siswa selalu semangat untuk mengikuti pembelajaran maka harus ada sesuatu yang merangsang motivasi siswa. Ada beberapa langkah yang dapat diambil dalam rangka menumbuhkan motivasi belajar siswa. Penulis sebagai guru kelas II SDN Sitirejo, Tambakromo Pati memilih untuk membuat media pohon prestasi. Pohon prestasi dapat dijadikan portofolio menarik bagi siswa yang merekam perolehan jejak pestasinya selama mengikuti pembelajaran.

Media pohon prestasi diadaptasi dari media pohon pintar yang merupakan media visual yang digunakan untuk menjelaskan suatu hubungan antara konsep dalam berbentuk pohon yang memiliki cabang dan ranting serta buah yang menggantung (Munadi,2008:95). Tetapi pohon prestasi ini bukan memuat penjelasan konsep materi pembelajaran namun difungsikan untuk menorehkan prestasi dari nilai maupun keaktifan siswa.

Pohon prestasi dibuat dari kertas origami yang digambar lalu dipotong membentuk pohon dengan banyak cabang. Potongan tersebut kemudian ditempel pada kertas alas yang dapat berupa kertas buffalo tebal atau kertas kardus yang diberi bingkai sederhana. Pohon yang telah dibuat diberi judul sesuai nama pemilik pohon misalnya “Pohon Prestasi Beni”. Selanjutnya di salah satu sudut media disediakan tempat untuk menuliskan keterangan gambar buah yang menunjukkan rentang jumlah nilai. Keterangan yang dibuat dapat berupa gambar buah apel untuk skor 91-100, jeruk untuk skor 81-90, pisang untuk skor 71-80, mangga utuk skor 61-70, anggur untuk skor 51-60, serta bintang untuk bonus keaktifan siswa. Pohon tersebut kemudian dapat dihias semenarik mungkin dengan tambahan gambar rumput, bunga, atau kupu-kupu untuk selanjutnya dipajang di kelas.

Cara kerja pengunaan pohon prestasi ini yaitu dengan menempelkan stiker buah yang diberikan guru setiap siswa mendapat nilai ulangan atau tugas dari guru selain PR. Stiker buah dapat ditulis nama pelajaran dan jumlah nilai yang diperolehnya. Proses ini dilakukan hingga akhir semester. Di akhir semester akan dilihat siapa siswa yang pohonnya paling banyak berbuah dengan kriteria nilai tinggi. Siswa dengan perolehan hasil buah paling banyak dan bernilai tinggi akan diberi penghargaan sedangkan siswa lain akan diberikan motivasi agar lebih giat belajar sehingga dapat memanen buah yang banyak. Pohon prestasi ini selanjutnya dapat dibawa pulang sebagai kenang-kenangan.

Dengan adanya pohon prestasi, siswa menjadi lebih termotivasi dan semangat untuk menyelesaikan tugas yang diberikan karena adanya keinginan untuk mencapai hasil tertentu. Selain itu, siswa juga dilatih untuk kreatif dalam membuat pohon prestasi dan dilatif untuk jujur dengan menempelkan stiker buah yang diperolehnya sendiri tanpa menukar atau meminta stiker orang lain. (*)

Artikel ini sudah diterbitkan di Koran Kilas FAKTA Edisi 197

Terima kasih atas tanggapannya

%d blogger menyukai ini: