
Oleh: Susi Susanti, S.Pd.
Guru SD N 1 Weleri Kabupaten Kendal
Perubahan teknologi digital telah memasuki hampirseluruh ruang kehidupan, tidak terkecuali dunia pendidikan. Di ruang kelas, penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi(TIK) kini bukan lagi sekadar pilihan tambahan. Teknologi telahmenjadi bagian penting dalam menciptakan pembelajaran yang interaktif, variatif, dan relevan dengan kebutuhan peserta didik.
Namun, transformasi digital pendidikan tidak selalu berartisekolah harus memiliki perangkat teknologi yang serba canggih. Justru, tantangan terbesar guru adalah bagaimana menggunakanteknologi secara adaptif: memilih dan mengoptimalkanperangkat yang benar-benar tersedia sesuai kebutuhanpembelajaran. Laptop, proyektor, bahkan smartphone dapatmenjadi sarana pembelajaran yang bermakna apabila digunakandengan strategi yang tepat. Inilah gagasan penting yang ditawarkan Modul 125: Penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Secara Adaptif dan Integrasi KecerdasanBuatan (AI) dalam Pembelajaran. Modul yang disusun untukpendidik di Kabupaten Kendal ini menempatkan guru sebagaiaktor utama transformasi digital, bukan sekadar penggunateknologi.
Kehadiran Artificial Intelligence (AI) sering menimbulkanpertanyaan: apakah teknologi akan menggantikan guru? Jawaban yang ditawarkan modul ini justru sebaliknya. AI diposisikan sebagai mitra dan asisten guru, sehingga pendidikdapat mengurangi beban pekerjaan administratif yang berulangdan memiliki lebih banyak waktu untuk mendampingi pesertadidik. AI generatif seperti Gemini atau ChatGPT, misalnya, dapat membantu guru menyusun draf modul ajar, mengembangkan materi, menghasilkan ide kegiatanpembelajaran, hingga membuat perangkat evaluasi. AI juga dapat membantu menyediakan variasi materi sesuai tingkat kemampuan peserta didik.

Gambar: Implementasi Kapas Gula
Sumber: Dokpri Penulis
Dalam pembelajaran yang semakin beragam, kemampuan personalisasi ini menjadi penting. Peserta didik tidak selalu memiliki kecepatan dan tingkat pemahaman yang sama. Teknologi dapat membantu guru menyediakan materi pengayaan bagi peserta didik yang sudah menguasai kompetensi, sekaligus materi yang lebih sederhana bagi mereka yang masih membutuhkan penguatan. Meski menawarkan banyak kemudahan, penggunaan teknologi tidak boleh sekadar mengikuti tren. Guru perlu memastikan bahwa setiap aplikasi atau perangkat yang digunakan benar-benar mendukung tujuan pembelajaran.
Prinsipnya sederhana: teknologi harus menjadi solusi, bukan beban. Media digital yang terlalu rumit justru dapat menghabiskan waktu pembelajaran untuk mengatasi persoalan teknis. Karena itu, guru perlu mempertimbangkan tujuan pembelajaran, kemudahan penggunaan, aksesibilitas, serta fasilitas yang tersedia di sekolah. Presentasi visual, video animasi, LMS seperti Google Classroom, maupun kuis digital dapat dimanfaatkan untuk membuat pembelajaran lebih menarik. Namun, kecanggihan alat bukan ukuran keberhasilan. Ukuran utamanya adalah apakah peserta didik menjadi lebih mudah memahami materi, lebih aktif, dan lebih termotivasi untuk belajar.
Ada satu prinsip penting yang tidak boleh dilupakan: AI bukan sumber kebenaran yang selalu sempurna. Hasil yang diberikan AI tetap harus diperiksa, dikurasi, dan divalidasi oleh guru. Modul menekankan prinsip Man in the Loop, yaitu manusia tetap berada dalam lingkaran pengambilan keputusan. AI dapat menghasilkan draf, tetapi guru yang menentukan apakah draf tersebut benar, relevan, sesuai kurikulum, dan tepat bagi karakteristik peserta didik. Verifikasi ini juga penting untuk menghindari kesalahan informasi atau halusinasi AI. Lebih dari itu, penggunaan AI harus tetap menjunjung integritas profesional. Guru tidak seharusnya sekadar melakukan copy-paste hasil AI. Sentuhan manusia, nilai karakter, budaya, dan kearifan lokal harus tetap hadir dalam setiap proses pembelajaran.
Transformasi digital pada akhirnya bukan perlombaantentang siapa yang memiliki teknologi paling canggih. Transformasi digital adalah tentang bagaimana teknologidigunakan untuk menjawab persoalan nyata pendidikan. Guru yang adaptif adalah guru yang mampu melihat keterbatasan sebagai ruang kreativitas. Sekolah dengan fasilitas sederhana tetap dapat menghadirkan pembelajaran digital. Sekolah dengan fasilitas lebih lengkap dapat mengembangkan pembelajaran berbasis LMS, AI, multimedia, dan evaluasi digital secara lebih luas.
Dengan demikian, masa depan pendidikan bukanlah tentang manusia melawan mesin, melainkan tentang guru yang bekerja bersama teknologi untuk memanusiakan pembelajaran. AI dapat membantu menyusun materi dan soal, TIK dapat membuka akses pengetahuan, tetapi guru tetap memegang peran utama dalam membimbing, menginspirasi, membangun karakter, dan memahami kebutuhan setiap peserta didik.
Karena itu, menjadi guru di era AI bukan berarti harus menjadi ahli teknologi. Yang jauh lebih penting adalah menjadi guru yang mau belajar, mampu beradaptasi, kritis dalam memverifikasi informasi, dan bijaksana dalam memilih teknologi. Sebab, kekuatan pendidikan bukan terletak pada seberapa canggih alat yang digunakan, melainkan pada seberapa tepat teknologi tersebut membantu peserta didik belajar dan berkembang. (*)
