Protokol kesehatan diterapkan, semua karyawan memakai masker dan jaga jarak

PATI – Kilasfakta.com, Pandemi covid-19 diwilayah Kabupaten Pati masih juga belum berakhir. Pertengahan November lalu muncul klaster baru, yakni Klaster Rajungan di Dukuh Celelek Desa Batursari, Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Sebanyak 24 karyawan yang bekerja di perusahaan pengolahan rajungan milik suami isteri Siswanto dan Sugiyati positif terpapar covid-19. Namun, ke 24 karyawan tersebut, saat ini sudah kembali bekerja seperti biasa, setelah menjalani karantina di rumah sang majikan, yang juga bertanggung jawab penuh terhadap fasilitas dan kebutuhan mereka.

“Semua karyawan yang terpapar covid-19 kami karantina di rumah majikannya, karena semua tempat karantina yang disediakan Gugus Tugas Kabupaten Pati sudah penuh dan tidak mampu menampung ke dua puluh empat tersebut. Melalui koordinasi dengan tim gugus tugas tingkat kecamatan dan kabupaten, akhirnya diijinkan untuk melakukan karantina di sini, rumah majikannya,” terang Subur selaku Kepala Desa Batursari.

Menurutnya, klaster ini muncul dan diketahui berawal ketika ada salah satu karyawan yang sakit dan berobat ke Puskesmas setempat. “Pada saat dilakukan swab test, yang bersangkutan ternyata positif terpapar covid-19. Karena kesehariannya dia bekerja di sini (perusahaan rajungan), maka dilakukan rapid test terhadap semua karyawan, dan ada tiga puluhan lebih yang reaktif. Setelah dilakukan swab test, ternyata ada 24 karyawan yang positif,” ungkap kepala desa.

Subur menambahkan, selama menjalani karantina di rumah besar di tengah-tengah perkampungan warga itu, masyarakat sekitar banyak yang memberikan support dan perhatian. “Warga banyak yang peduli dengan mengirimkan kebutuhan mereka selama menjalani karantina. Terlebih lagi majikannya. Misal ada yang butuh atau kepingin apa, mereka tidak segan-segan untuk menyampaikan ke majikan, dan dipenuhi oleh majikannya,” imbuh Kades.

Yasminah (40 tahun), salah satu karyawan mengaku nyaman saat menjalani karantina di rumah majikannya. “Awalnya memang ada perasaan takut dan was-was, namun karena pingin sehat dan bisa bekerja lagi, maka saya ikuti karantina dengan nyaman. Apalagi Bos kami sangat peduli terhadap kebutuhan kami selama menjalani karantina,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Susriati. Karyawan yang bekerja di bagian sortir itu mengaku biasa-biasa saja, bahkan nyaris tanpa gejala. Namun, pada saat hasil test swab dinyatakan positif, dirinya hanya patuh mengikuti program karantina bersama karyawan lainnya. “Dari pada nanti malah membahayakan orang lain, maka saya ikuti program karantina sampai selesai.

“Awalnya ada perasaan was-was, namun setelah ikut menjalani karantina, saya merasa nyaman, karena benar-benar diperhatikan, dikasih obat, dan semua kebutuhan dipenuhi oleh majikan. Apalagi, para tetangga juga banyak yang support dan ikut peduli kepada kami,” bebernya.

Sementara itu, Sugiyati, pemilik perusahaan Rajungan kepada Kilasfakta.com mengatakan, dirinya sempat panik. Namun, dirinya tak segan-segan mendatangi satu persatu karyawan tersebut untuk memberikan support dan memberikan penjelasan agar tidak takut atau panik, sampai mereka bersedia mengikuti program isolasi bersama dengan karyawan lainnya.

“Saya juga setiap dua hari sekali datang ke tempat isolasi untuk memberikan support agar mereka tetap semangat. Mereka kami belikan vitamin, kebutuhannya kami cukupi, dan kami besarkan hatinya, agar tetap semangat. Dan alhamdulillah, setelah dilakukan test swab, mereka dinyatakan negatif semua,” terang Sugiyati.

Sugiyai menambahkan, setelah mulai aktif bekerja kembali, pihaknya meminta kepada semua karyawan agar membawa minuman dan makanan dari rumah sendiri-sendiri. “Biasanya kan kalau minum tempate jadi satu, dan sekarang tak minta untuk bawa minuman sendiri-sendiri. Terus, biasanya ada bakul jajan dan makanan yang datang ke gudang, dan para karyawan sering jajan dengan orang dari luar. Mulai kemarin masuk, kami minta untuk membawa makanan dari rumah. Kami juga mewajibkan untuk selalu pakai masker, dan cuci tangan dengan sabun, serta menjaga jarak,” imbuhnya.

Hal senada juga disampaikan Siswanto. Suami Sugiyati ini berusaha untuk memberikan apa yang mereka butuhkan selama menjalani karantina. “Jika selama ini kami yang sering menyuruh mereka, memberikan tugas pekerjaan saat bekerja, maka tidak ada salahnya jika mereka gantian menyuruh saya untuk membelikan ini dan itu selama di karantina. Para karyawan ini kan sudah menjadi bagian dari kami juga,” ujarnya.

Menurut Siswanto, pihaknya selalu berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat di dalam melaksanakan isolasi terhadap karyawannya. “CCTV juga kami optimalkan kembali di dalam rumah ini agar dapat memantau kondisi mereka selama menjalani karantina,” imbuhnya.

Siswanto merasa bersyukur, saat ini kedua puluh empat karyawan itu sudah bekerja kembali. Dan untuk karyawan yang lain, diminta melakukan test swab terlebih dahulu sebelum kembali bekerja. “Karyawan lainnya, kami minta untuk melakukan test swab terlebih dahulu, agar pada saat kembali bekerja nanti dalam keadaan negatif semua. Ini kan demi kebaikan bersama,” pungkasnya.

Pewarta : Purwoko

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *