Oleh: Ifa Nurcahyanti, S. Pd. (Guru SD Negeri Beketel 02, Kec. Kayen, Kab. Pati)

Pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas sudah diizinkan di sebagian besar sekolah di Indonesia. Hal ini tentu saja disambut dengan sangat baik oleh seluruh warga sekolah mulai dari guru, siswa, dan orang tua siswa. Pelaksanaan PTM menjadi sangat penting untuk menghindarkan generasi muda Indonesia dari risiko penurunan capaian pembelajaran (learning loss) selama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). PJJ yang berkepanjangan dapat menimbulkan sejumlah dampak negatif yang harus diantisipasi, diantaranya penurunan capaian pembelajaran, putus sekolah, dan menurunnya kesehatan mental serta psikis anak yang juga mempengaruhi tumbuh kembang anak.

Kendati demikian, kita tidak boleh lengah dengan ancaman munculnya klaster Covid-19 baru di lingkungan sekolah. Karena selama penyelenggaraan PTM terbatas, kesehatan dan keselamatan semua pihak yang terlibat di PTM terbatas harus diutamakan khususnya para siswa. Demi terwujudnya suasana sekolah aman maka peran orang tua dan guru menjadi sangat krusial dalam mengawasi anak agar patuh menerapkan protokol kesehatan, baik di sekolah maupun di rumah. Untuk memulai PTM terbatas, sekolah harus sudah memenuhi persyaratan protokol kesehatan (prokes) yang baik. Mulai dari pengukur suhu badan, sarana cuci tangan yang mencukupi, tersedianya masker cadangan, pengaturan jarak tempat duduk siswa, serta ventilasi ruangan yang baik.

Selama pembelajaran di sekolah, guru juga tidak boleh kendor dalam mengawasi protokol kesehatan anak didiknya. Pengawasan prokes merupakan hal yang sangat penting dilakukan kepada siswa, termasuk siswa di kelas I SD Negeri Beketel 02, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati. Anak usia kelas I masih sangat membutuhkan perhatian dan pengawasan guru selama di sekolah. Mereka adalah siswa yang baru pertama kali menginjakkan kaki di sekolahnya. Karena masih anak-anak, mereka juga umumnya belum bisa tertib terhadap peraturan seperti taat prokes tanpa bimbingan dari guru atau orang tua. Di sekolah, guru harus senantiasa mengawasi anak untuk memakai masker, membenarkan masker yang miring atau tidak terpakai dengan baik, membimbing siswa agar rajin mencuci tangan, dan menjaga jarak dengan teman.

Sesampainya di rumah, peran penting terletak pada orang tua agar memberi pengertian kepada anak mengenai pentingnya disiplin protokol kesehatan. Peran orangtua saangat besar dalam menyiapkan mental dan fisik anak untuk PTM. Seperti menyiapkan masker, hand sanitizer, juga dengan membiasakan anak sarapan dari rumah serta menyiapkan bekal untuk dibawa ke sekolah. Selain itu, orang tua siswa juga sebaiknya memberi edukasi 5M, yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas kepada anaknya.

Edukasi yang paling awal adalah dengan memberikan contoh kepada anak-anak misalnya dengan selalu memakai masker dan tidak berkumpul dengan banyak orang di luar rumah. Pemberian contoh yang benar dari orang tua akan membuat anak terbiasa menjalankan protokol kesehatan di mana saja, termasuk di sekolah saat menjalani PTM. Orang tua juga harus memastikan anaknya agar langsung pulang ke rumah setelah PTM. Siswa yang selepas sekolah tidak langsung pulang ke rumah memiliki potensi penyebaran Covid-19 yang tinggi. Dan selama di rumah, anak tetap dibimbing untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin dengan beristirahat, bermain, dan belajar. Bimbingan dan pengawasan dari semua pihak sangat dibutuhkan. Jika guru memberikan bimbingan dan pengawasan di lingkungan sekolah, maka orang tua akan membimbing dan mengawasi anak ketika di rumah. Hubungan ini harus sinergis demi terwujudnya kelancaran PTM anak. (*)

Baca Juga: Yayasan Bakti Acarya Pertiwi Pelaksana Program Organisasi Penggerak (POP) Kemendikbudristek di Kabupaten Pati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *