PATI – Kilasfakta.com, Maraknya aksi tawuran yang melibatkan pelajar serta munculnya kelompok remaja yang diduga membawa senjata tajam kembali menjadi perhatian DPRD Kabupaten Pati. Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pati, Hardi, mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari aparat keamanan hingga keluarga, memperkuat pengawasan terhadap remaja guna mencegah meningkatnya gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
Menurut Hardi, menjaga kondusivitas daerah tidak dapat dibebankan hanya kepada kepolisian maupun TNI. Peran orang tua dinilai sama pentingnya karena keluarga merupakan lingkungan pertama yang dapat mengawasi aktivitas anak, terutama ketika berada di luar rumah pada malam hari.
“Masalah kamtibmas ini memang perlu ditingkatkan. Saya mengharapkan kepada pihak kepolisian dan TNI untuk mengawasi lingkungan. Saya juga mengharapkan orang tua agar mengawasi anak dan cucunya, jangan sampai terjadi tawuran,” ujar Hardi.
Ia mengatakan, orang tua perlu mengetahui keberadaan anak-anak mereka setiap saat. Sikap peduli terhadap aktivitas remaja diyakini mampu mencegah keterlibatan mereka dalam aksi kekerasan maupun tindak kriminal yang dapat merugikan diri sendiri dan masyarakat.
“Apalagi kalau ada yang membawa senjata tajam pada malam hari. Orang tualah yang harus mengawasi. Kalau anak keluar rumah, orang tua harus peka dan mencarinya bila diperlukan, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan. Dengan begitu, Kabupaten Pati bisa tetap tenang dan kondusif,” lanjutnya.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap sejumlah kasus tawuran antarpelajar di Kabupaten Pati. Selain itu, keberadaan kelompok remaja yang dikenal dengan sebutan “kreak” atau gangster juga masih menimbulkan keresahan karena kerap dikaitkan dengan aksi membawa senjata tajam.
Belum lama ini, aparat kepolisian mengamankan sembilan pelajar dari salah satu SMK swasta di Kabupaten Pati yang diduga terlibat tawuran di kawasan Jalan Lingkar Selatan (JLS) Pati. Pengungkapan kasus bermula dari laporan warga mengenai adanya konvoi pelajar dan dugaan aksi tawuran di sekitar SPBU Mojo, Kecamatan Margorejo.
Petugas kemudian melakukan penyisiran dan menemukan sekelompok pelajar yang berkumpul di sebuah tempat di kawasan Pasar Beras Sleko. Dari hasil pemeriksaan awal, konflik antarpelajar tersebut diduga dipicu unggahan di media sosial Instagram yang dianggap sebagai bentuk tantangan.
Hardi berharap kejadian serupa tidak kembali terulang. Menurutnya, sinergi antara aparat keamanan, sekolah, keluarga, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam membangun lingkungan yang aman serta melindungi generasi muda dari pengaruh negatif yang dapat mengarah pada tindakan melanggar hukum. (Adv)

