Oleh: Liya Afifatul Muawanah (Mahasiswa Kelompok KKN MDR Madukara IPMAFA Pati 2020)

Sudah sembilan bulan lamanya COVID-19 mewabah di negara kita, Indonesia. Sejak kasus pertama COVID-19 muncul di Indonesia yang diumumkan secara resmi oleh Presiden Joko Widodo pada 2 Maret 2020 lalu sampai saat ini kasus COVID-19 di Indonesia terus bertambah dan belum bisa dikendalikan. Selain terus bertambah dan belum bisa dikendalikan kita juga belum tahu dan juga tak ada yang bisa memprediksi sampai kapan pandemi COVID-19 ini akan berahir.

Wabah pandemi COVID-19 yang tak kunjung berahir dan justru malah setiap hari kasus COVID-19 terus bertambah ini membuat banyak orang merasa cemas, khawatir, waswas dan takut. Bahkan beberapa orang di antaranya merasa tidak berdaya menghadapi wabah COVID-19, sehingga pada akhirnya ada orang yang sampai putus asa menghadapai COVID-19.

Penting sekali kita sadari bahwa COVID-19 memang perlu diwaspadai tapi bukan untuk ditakuti dengan ketakutan yang berlebihan sehingga dapat membuat kita stres, putus asa dan menyerah. Kita harus sadar bahwa semua yang terjadi tidak lain adalah karena kehendak dan takdir Allah SWT. Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini sudah di tentukan sudah diatur dan sudah menjadi garis takdir Allah.

Begitupun dengan kemunculan COVID-19 ini, kita harus percaya bahwa COVID-19 adalah penyakit yang datangnya dari Allah, COVID-19 merupakan ujian dari Allah. Sebagai hamba-Nya tentu kita harus yakin bahwa segala penyakit yang datangnya dari Allah maka Allah juga yang akan menyembuhkannya. Ketika Allah mendatangkan ujian maka pasti Allah juga menyertakan solusi di dalamnya. Jadi, kita tidak boleh berputus asa dari pertolongan Allah SWT. Kita harus menanamkan keyakinan bahwa COVID-19 bukan merupakan akhir dari segalanya. Jangan sampai kita berburuk sangka pada ketentuan yang sudah digariskan oleh Allah.

Islam mengajarkan cara beragama sejati, cara beragama yang sejati ini adalah cara beragama yang membahagiakan, bukan cara beragama yang memberat-beratkan, bukan pula yang menimbulkan kecemasan, kepanikan dan ketakutan, bukan pula yang meremeh-remehkan atau menganggap sepele pandemi ini.
Dalam tataran praktisnya, beragama yang membahagiakan dalam konteks menghadapi COVID-19 adalah dengan melaksanakan tiga hal.

  1. Ikhtiar
    Ikhtiar adalah sebuah usaha yang dilakukan seorang hamba untuk memenuhi kebutuhan dalam hidupnya, baik itu kebutuhan material, spiritual, kesehatan, dan masa depannya dengan tujuan agar hidupnya selamat sejahtera dunia dan akhirat dapat terpenuhi. Usaha yang dilakukan tidaklah usaha yang setengah-setengah melainkan sebuah usaha yang dilakukan secara sungguh-sungguh, maksimal dn sepenuh hati, yang tentunya sesuai dengan kemampuan dan keterampilannya, akan tetapi bila usaha yang dilakukan gagal, hendaknya tidak boleh berputus asa.
    Dalam menghadapi COVID-19 ini kita harus berikhtiar dengan ikhtiar lahiriah dan ikhtiar batiniyah agar COVID-19 ini cepat berlalu, agar kita terhidar dari paparan COVID-19.
    Ikhtiar lahiriah (fisik/sesuatu yang tampak), seperti halnya mematuhi protokol kesehatan dan aturan pemerintah tentang pencegahan penularan COVID-19 dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat, memakai masker saat bepergian, kemudian rutin mencuci tangan secara benar sebagaimana anjuran WHO, menjaga jarak, rajin olah raga, mengkonsumsi makanan sehat, bergizi dan bervitamin, juga taat pada protokol dalam kegiatan beribadah yang dilakukan di tempat umum.
    Ikhtiar batiniah (metafisik/sesuatu yang tak nampak), suatu kegiatan yang bersifat spiritual seperti berdoa, sembayang dan lain-lain. Ya, dalam menghadapi wabah COVID-19 kita harus seantiasa berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah, kita harus memohon pertolongan, perlindungan dan kekuatan kepada Allah.
    KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), sebagaimana dikutip dari NU Online pada hari Senin (15/3/2020), memberikan amalan doa menghadapi COVID-19 antara lain sebagai berikut:

بِسْمِ اللهِ لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْئٌ فِي اْلأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ،

Artinya: “Dengan menyebut nama Allah yang bersama nama-Nya tidak ada sesuatu yang berbahaya baik di bumi maupun di langit. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Mengetahui.” Doa tersebut dibaca sehabis Subuh dan Maghrib dan juga ketika hendak keluar rumah.
Selain doa tersebut Gus Mus juga memberikan amalan dengan mewiridkan asma Allah يا سلام (yã Salãm) يا حفيظ (yã Hafiizh), dan يا مانع يا ضآر ، (yã Mãni’u yã Dhãrru), yang masing-masing dibaca minimal 20 kali setiap sehabis salat.

  1. Tawakal
    Tawakal adalah berserah diri kepada Allah SWT. Tawakal adalah sebuah sikap ketenangan hati serta tidak ada rasa curiga, karena memliki keyakinan bahwa Allah Maha Tahu dan Maha Bijaksana. Namun, tawakal disini bukan berarti penyerahan diri secara mutlaq kepada Allah tanpa perbuatan apa-apa atau hanya berdiam diri tanpa adanya ikhtiar, melainkan penyerahan diri yang harus didahului dengan ikhtiar secara maksimal.
    Dengan demikian, dalam menghadapi COVID-19 ini kita tidak boleh berserah diri begitu saja kepada Allah tanpa melakukan ikhtiar apapun. Kita harus berikhtiar atau berusaha semaksimal mungkin, semampu kita, sekuat tenaga dan melandasinya dengan semangat kepasrahan kepada Allah seraya menyadari bahwa semua kejadian dan peristiwa datangnya dari Allah SWT dan ketetapan-Nya (taqdir) agar dapat selamat dari bencana. Dalam pencegahan dari sebuah wabah manakala ketawakalan yang pertama kali dihadirkan di dalam menghadapi suatu bencana, maka tentu Allah akan menurunkan jalan keluarnya selain memberikan ketenangan dalam jiwa. Allah berfirman :

وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمۡرِهِۦۚ قَدۡ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَيۡءٖ قَدۡرٗا

Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu. (QS. Ath-Thalaq, Ayat 3)
Dengan mendahulukan ketawakalan dalam menghadi wabah COVID-19 akan membuat setiap manusia menjadi lebih tenang dalam menghadapinya dan menjauhkannya dari segala kepanikan. Dengan ketawakalan inilah maka manusia akan mudah mendapatkan jalan keluar dengan petunjuk-Nya.

  1. Optimis
    Optimis adalah sikap atau pandangan positif yang dimiliki seseorang dengan cara berpikir positif, memiliki pemikiran yang kuat, merasa percaya diri, percaya bahwa akan selalu ada harapan di dalam hidup, dan merasa yakin bahwa suatu saat dirinya akan meraih tujuan yang diinginkan.
    Dalam menghadapi COVID-19 optimis adalah media berbuat taat dan berprasangka baik kepada Allah Yang Maha Pengasih. Sikap optimis dalam menghadi COVID-19 dapat menumbuhkan keyakinan bahwa dengan ikhtiar dan tawakal maksimal pandemi COVID-19 ini bisa dihadapi dengan baik, dan pandemi COVID-19 akan segera berlalu. Ya, setelah berikhtiar dan bertawakal, kita harus yakin ikhtiar yang kita lakukan akan mencapai hasil yang diharapkan, sehat walafiyat, dilindungi dan diselamatkan dari COVID-19.
    Kita harus waspada tapi kita tidak boleh panik, tidak boleh takut. Kita harus berikhtiar, berusah dengan usaha terbaik usaha total usaha maksimal dari diri kita, kita harus tawakal, kita harus memupuk optimisme dalam diri kita bahwa kita bisa menghadapi COVID-19, kita mampu melawan wabah ini serta mampu memenangkan peperangan ini, Allah SWT akan senantiasa menolong dan melindungi kita, Allah SWT akan memberi jalan keluar sehingga COVID-19 akan segera hilang akan segera berlalu. Amin.

Terima kasih atas tanggapannya

%d blogger menyukai ini: