
SRAGEN – Kilasfakta.com – Kepedulian terhadap lingkungan hidup tak melulu didominasi generasi tua. Di tangan Marsella Wahyu Mutia, seorang gadis asal Dukuh Gesi, Desa Gesi, Kecamatan Gesi, aksi penyelamatan bumi justru menjadi gerakan anak muda yang masif dan bertenaga.
Lewat konsistensinya memulihkan lahan kritis di bumi Sukowati, perempuan yang akrab disapa Sella ini sukses diganjar penghargaan prestisius Kalpataru Yuvan dari Kementerian Lingkungan Hidup (Kemen LH).
Langkah nyata Sella bermula pada 2023 lalu.
Bersama lima temannya, ia mendirikan Warsa Kelana (Wadah Aksi Remaja Sadar Kelestarian Alam Nusantara). Siapa sangka, gerakan yang awalnya hanya dimotori enam orang tersebut kini berkembang pesat hingga memiliki 100 anggota aktif. Metodenya sederhana namun konsisten, dari mulut ke mulut atau gethok tular.
“Tujuan utama kami adalah memulihkan lahan hijau lewat penanaman pohon dan restorasi lingkungan. Wilayah Gesi ini kan tanahnya cenderung tandus dan masuk kategori lahan kritis,” ujar Sella saat berbincang di kediamannya, Kamis (16/7/2026)
Untuk mengembalikan fungsi tanah di kawasan kritis seperti Desa Poleng, Kecamatan Gesi, Warsa Kelana menginisiasi pembuatan ratusan lubang biopori. Lubang-lubang tersebut kemudian diisi sampah organik hingga bertransformasi menjadi kompos alami.
Tak berhenti di situ, kawasan kritis tersebut kemudian dihijaukan. Tercatat, sudah ada 300 pohon yang tertanam di lahan kritis Desa Poleng, serta aksi konservasi air di Desa Banyurip, Kecamatan Jenar.
“Setiap pergerakan, kami targetkan membuat 15 biopori, lalu gerakan berikutnya disusul dengan penanaman pohon di sampingnya. Dari 300 pohon yang ditanam, saat ini ada 100 pohon yang berhasil bertahan hidup dan tumbuh produktif,” beber putri pasangan pedagang kelontong Pasar Gesi, Muadi, 51, dan Siti Aprilawati, 47 ini.
Inovasi Warsa Kelana tak mandek di biopori. Mereka juga memproduksi pupuk kompos mandiri yang dinamakan Pupuk Sapio (Sapi Bio Organik). Memanfaatkan kotoran sapi yang difermentasi dengan cairan EM4, pupuk berkualitas ini digunakan khusus untuk internal gerakan dan tidak diperjualbelikan.
Tentu saja jalan Sella tak selalu mulus. Mengubah pola pikir anak muda dan warga desa menjadi tantangan terberatnya. Demi menembus dinding skeptisisme itu, Sella getol menggandeng kepala desa dan perangkat desa setempat untuk sosialisasi. Gayung bersambut, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sragen pun ikut menyokong kebutuhan bibit pohon mereka.
Kini, buah kerja keras gadis yang bercita-cita menjadi Menteri Lingkungan Hidup ini mulai dipetik. Sella kebanjiran undangan menjadi pembicara isu lingkungan di berbagai SMP, SMA, dan SMK se-Sragen, hingga menjangkau wilayah Soloraya. Mulai bulan ini, ia bahkan mulai merambah sekolah dasar (SD) untuk menyukseskan program menuju Sekolah Adiwiyata.
Ke depan, Sella punya mimpi besar untuk mengawinkan isu ekologi dengan ekonomi warga. Ia berencana mengembangkan budi daya tanaman produktif non-buah, salah satunya adalah tanaman garut. “Nanti hasilnya bisa diolah menjadi emping garut atau pati garut, sehingga bisa menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar,” ucapnya.
Aksi nyata Sella ini mendapat apresiasi penuh dari Plt Camat Gesi, Dion Henry Wibowo. Ia mendukung penuh langkah Sella dan berharap sang pemudi kelak benar-benar bisa menduduki kursi Menteri LH dari jalur profesional.
“Kami berharap Sella terus membantu menyadarkan warga Gesi, khususnya di Desa Poleng, agar wilayah tersebut ke depan bisa terbebas dari krisis air bersih,” pungkas Plt Camat Gesi.
(Wahono/Hendro)
