PATI — Kilasfakta.com, Dampak musim kemarau panjang mulai dirasakan sektor perikanan di Kabupaten Pati. Sekitar 1.300 hektare tambak yang tersebar di 33 desa di Kecamatan Juwana dan Batangan dilaporkan mengalami kekurangan air, kondisi yang dikhawatirkan mengganggu produktivitas budidaya sekaligus pendapatan para petambak.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Pati, Hadi Santosa, membenarkan luasan tambak terdampak tersebut. “Untuk tambak yang terdampak di Pati, di saat musim kemarau ini diperkirakan sekitar 1.300 hektare yang tersebar di 33 desa di Kecamatan Juwana dan Kecamatan Batangan,” ujarnya.
Hadi memperkirakan, kekeringan ini berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi yang tidak kecil. Berdasarkan perhitungan sementara mengacu produktivitas tambak, di mana bandeng menghasilkan sekitar satu ton per hektare dan ikan nila 2,5–3 ton per hektare, nilai produksi yang terancam disebut mencapai hampir Rp50 miliar dalam satu periode panen. “Kalau dikalikan itu bisa hampir Rp50 miliar untuk satu kali periode panen,” jelasnya.
DKP Pati saat ini terus memantau dan mendata wilayah perikanan yang terdampak, bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). “Kita memantau dan juga melakukan pendataan. Kebetulan juga ada dari Kementerian Kelautan dan Perikanan yang untuk memantau situasi kondisi kekeringan di Pati,” kata Hadi.
Ia menambahkan, hasil pemantauan tersebut akan menjadi dasar penentuan langkah penanganan ke depan, termasuk kemungkinan bantuan bagi pembudidaya. Namun, hingga saat ini bantuan berupa benih ikan belum tersedia. “Belum (tersedia saat ini-red). Ini sedang kita usahakan,” ujarnya. (RED)

